Jumat, 28 Desember 2012

Kerajaan Singasari


Singasari 1
A.                     Berdirinya Singasari
Di bawah kekuasaan Kediri ada sebuah daerah bernama Tumapel yang terletak disebelah gunung Kawi, kira-kira disekitar daerah Malang sekarang. Daerah itu merupakan suatu punggung dataran yang amat subur dengan udaranya yang segar.
Tumapel diperintah oleh seorang akuwu atau Bupati yang bernama Tunggul Ametung.bupati ini mempunyai seorang istri yang amat cantik, namanya Ken Dedes. Tadinya Ken Dedes adalah putri seorang endeta Budha dari Panawijen. Tanpa diketahui sang pendeta Tunggul Ametung melarikan Ken Dedes dan memperistrinya.
Pada masa itu ada seorang pemuda yang bernama Ken Angrok. Orang tuanya seorang petani biasa dari sekitar Malang juga. Pemuda Ken Angrok adalah seorang pengganggu ketentraman umum. Sebagai seorang petualang ia suka berjudi, mencuri, menyamun, membunuh dan memperkosa. Kejahatan-kejahatan itu membuatnya terkenal hampir di seluruh kerajaan. Malahan raja Kediri telah memerintahkan Tunggul Ametung untuk menangkapnya,  tetapi tidak berhasil.
Tunggul Ametung hanya mendengar saja tentang perbuatan-perbuatan Ken Angrok. Ia hanya menerima laporan dari bawahannya. Oleh karena itu ketika ada seorang pemuda yang menghambakan diri padanya, Tunggul Ametung tidak mengenalnya. Sebenarnya pemuda itu adalah buronan negara nomor satu yang harus dibasminya. Pemuda itu ialah Ken Angrok sendiri.
Ken Angrok berhasil mengambil hati Tunggul Ametung. Ia menjadi orang kepercayaan sang bupati. Akan tetapi diam-diam Ken Angrok telah merencanakan untuk melenyapka Tunggul Ametung. Ia memesan keris dari seorang pandai keris terkenal Empu Gandring. Dengan keris buatan Empu Gandring tersebut Ken Angrok berhasil membunuh Tunggul Ametung.
Setelah Tunggul Ametung tewas, Ken Arok mengangkat dirinya sebagai Bupati Tumapel. Masih belum puas juga dengan membunuh Tunggul Ametung dan menggantiklan kedudukannya, Ken Arok lalu mengawini janda Tunggul Ametung, Ken Dedes. Ketika itu Ken Dedes sudah hamil 3 bulan. Ken Dedes sedang mengandung anaknya dengan Tunggul Ametung.
Ternyata semua perbuatan Ken Arok itu tidak ada yang berani mencegahnya. Orang-orang seperti menerima begitu saja semua peristiwa yang berturut-turut telah terjadi itu.
Meskipun demikian, setelah menjadi Bupati, Ken Arok berubah. Kelakuan lama yang sewenang-wenang dibuangnya. Keluarga orang-orang yang menjadi korbannya dulu dibantunya. Begitu pula terhadap orang-orang yang pernah berjasa padanya ketika ia bertualang. 
Ketika itu di kerajaan Kediri memerintah raja Kertajaya. Raja ini dikenal dengan nama Dandang Gendis.  Kerajaan Kediri dari Kertajaya itu adalah lanjutan dari Kerajaan raja Air Langga. Pada tahun 1042 Air Langga membagi 2 kerajaannya untuk kedua orang putranya. Kedua kerajaan itu ialah :
1. Kediri  ( atau Panjalu, ibukotanya Daha ).
2. Janggala ( ibukotanya Kahuripan )
Pembagian kerajaan itu dilakukan oleh seorang yang dianggap sakti bernama Empu Barada. Dari 2 kerajaan itu hanya Kediri yang paling menonjol. Kerjaan Janggal terdesak kebelakang, malahan sebagaian lalu termasuk kebawah pengawasan Kediri. Ternyata raja Kediri Kertajaya tidak begitu disukai. Ia berselisih dengan pendeta-pendeta agama Syiwa maupun Budha. Kertajaya menuntut agar pendeta-pendeta itu menyembahnya sebagai Dewa Batara Guru. Pendeta-pendeta itu menolak.aAlasan mereka, bahwa tidak ada Pendeta yang menyembah Raja. Raja mendesak dan memaksa terus. Akhirnya pendeta-pendeta itu berpikir. Daripada mereka dipaksa dan dihukum, lebih baik mereka melarikan diri saja. Maka berduyun-duyunlah mereka menyingkir ke Tumapel. Mereka meminta perlindungan pada Ken Arok.
Ken Arok belum puas dengan menjadi Bupati Tumapel saja. Dengan kedudukannya itu berarti ia masih dibawah Kediri. Ia ingin berkuasa sendiri. Menjadi tuan sendiri ! Untuk itu ia harus menundukkan Kediri.
Kebetulan Ken Arok mendapat kesempatan baik. Pendeta-pendeta dari Kediri mengungsi ke Tumapel. Ken Arok tidak hanya memerlukan dukungan rakyat biasa. Ia juga membutuhkan dukunganpendeta-pendeta. Mengapa ? sebab pendeta-pendeta itulah yang dapat menobatkan dia sebagai Raja. Baru ia sah menjadi Raja. Atas pertimbangan inilah ia memberikan perlindungan pada pendeta-pendeta itu.
Sikap Ken Arok itu membuat Kertajaya murka. Bagi Kertajaya Ken Arok sudah keterlaluan. Ken Arok sudah mengangkat dirinya sebagai Bupati tanpa restunya. Sekarang Ken Arok menatangnya dengan bersengkongkol dengan pendeta-pendeta musuhnya. Kertajaya memutuskan Ken Arok harus ditindak ! Demikianlah Kertajaya terpancing untuk berperang melawan bupati Tumapel itu.
Pada tahun 1222 terjadilah pertempuran disebelah utara Ganter. Pertempuran Ganter ini sangat menentukan : siapa yang akan berkuasa dibekas Kerajaan Air Langga duhulu itu. Dalam pertempuran ini akhirnya tentara Kediri berhasil dihancurkan tentara Tumapel. Raja Kediri melarikan diri.  Ia lalu hidup menyendiri disebuah pertapaan yang sepi.
Sesudah kemenangan di Ganter itu Ken Arok dinobatkan menjadi raja Tumapel dan Kediri. Penobatan itu dilakukan oleh pendeta-pendeta syiwa dan Budha. Nama nobatnya Rajasa. Artinya penakluk ! Ia memang telah berhasil menaklukkan segala rintangan baginya. Yang terakhir ialah Kediri. Juga ia dikenal dengan gelar Amurawa Bumi, artinya pembentuk Negara ! Rajasa memang berhasil membentuk sebuiah Negara baru yang kemudian menjadi Singasari itu. Nama Tumapel masih digunakan. Ibukotanya bernama Kutaraja.
Kemenangan Ganter tahun 1222 itu penting sekali untuk dicatat. Kejadian itu merupakan tonggak sejarah yang perlu diingat. Mengapa ?. Sebab-sebabnya : Merupakan saat runtuhnya kerajaan Kediri dan saat tegaknya kerajaan Singasari. Kediri pergi Singasari berdiri.
Berakhirnya dinasti Isana. Dinasti ini telah menurunkan raja-raja yang memerintah di Jawa Timur sejak abad ke-10, sejak Empu Sinduk sebagai pendirinya. Malahan sebenarnya raja-raja yang erat dengan timbulnya dinasti ini berasal dari Jawa Tengah. Jadio keluarga Isana adalah keluarga raja-raja yang sudah cukup tua. Dinasti ini telah menurunkan raja-raja: sejak dari Sindok, Darmawangsa, Aairlangga, samnpai dengan raja Janggal dan Kediri. Kertajaya adalah raja Kediri yang terkhir. Kediri dibawah Kertajaya Kertajaya adalah paling terakhir sebagai kerajaan yang merdeka berdaulat. Sesudah itu Kediri menjadi bagian dari Singasari.
Dinasti tua yang berasal turun temurun dari raja itu berakhir sampai  dengan  Kertajaya . Dinasti baru timbul : Girindra ( Raja Gunung ) . Pendiri dinasti baru ini berasal dari rakyat biasa saja, dari keluarga petani. Jadi kalau dinasti lama memang berasal dari atas yaitu raja-raja, maka dinasti baru berasal dari bawah yaitu rakyat jelata.
Pergantian dinasti inilah yang membuat kemenangan Ganter itu mempunyai arti penting. Pada akhir pemerintahannya, tahun 1042  Airlangga membagi 2 kerajaannya. Dua kerajaan itu ialah Kediri dan Janggala. Pembagian itu dilakukan oleh seorang brahmana, Empu Barada.
Dengan kemenangan Ganter tahun 1222 itu, pembagian kerajaan oleh Empu Barada tadi dihapuskan.  Ken Arok menyatukan kedua bagian bekas kerajaan Airlangga itu. Bekas kerajan Jenggal dan Kediri bersatu kembali menjadi satu kerajaan baru yang bernama Tumapel atau Singasari. Kerajaan baru ini dibangun oleh Rajasa alias Ken Arok.
Seperti sudah disebutkan, Kertajaya adalah raja Kediri yang terakhir. Meskipun demikian ia masih mempunyai keturunan. Rajasa tetap menghargai keturunan Kertajaya itu, terbukti dengan diangkatnya Jayasaba ( 1222-1258 ) sebagai bupati Kediri.
Tindakan Rajasa ini dicontoh oleh raja-raja  Singasari berikutnya. Bupati –bupati Kediri sesudah Jayasaba masih keturunan Kertajaya juga. Mereka itu ialah Sastrajaya ( 1258-1271 ) dan Jayakatwang ( 1271-1293 ) Jayakatwang masih mempunyai anak namanya Ardaraja. Ardaraja tidak sempat menjadi Bupati, meskipun demikian ia adalah menantu Kertanagara. Jayakatwang dan Kertanagara berbesanan, tetapi Jaya katwang lah yang menjatuhkan Kertanagara nanti.
B.                      Korban Keris Empu Gandring
Keris berdarah Empu Gandring terus menelan korban. Rajasa hanya lima tahun berkuasa. Ini terhitung sejak ia memenangkan perang di Ganter. Pada tahun 1227 ia mati dibunuh anak tirinya yang benama Anusapati. Senjata yang membunih Rajasa itu ialah keris yag dulu dipakainya untuk membunuh Tunggul Ametung, yaitu keris Empu Gandring. Anusapati adalah anak Tunggul Ametung dengan Ken Dedes. Rajasa adalah korban dendam. Ia menjadi korban dari rangkaian pembunuhan yang diMulainya sendiri.
Anusapati (1227-1248) menggantikan Rajasa. Pemerintahannya cukup lama, yaitu 21 tahun. Akan tetapi dalam waktu yang sekian lama itu ia tak membawa perubahan apa-apa bagi Singasari. Pada tahun 1248 ia mati terbunuh. Keris Empu Gandring lagi-lagi menelan korban. Pembunuhan tersebut dilakukan oleh adik tirinya sendiri yaitu Tohjaya. Seperti Rajasa, Anusapati adalah korban dendam. Tohjaya adalah anak Rajasa dengan istri lain yaitu Ken Umang.
Tohjaya (1248) naik tahta. Tetapi ia hanya memerintah beberapa bulan saja. Dalam tahub 1248 itu juga ia dijatuhkan oleh dua orang kemenkan tirinya, Rangga Wuni dan Mahisa Campaka.
Rangga Wuni adalah putra Anusapati. Mahisa Campaka adalah putra Mahisa Wonga Teleng. Mahisa Wonga Teleng adalah saudara Anusapati seibu, tetapi lain ayah. Sebaliknya bagi Tohjaya,Mahisa Wonga Teleng adalah saudaranya seayah tapi lain lbu.
Tohjaya menganggap Rangga Wuni dan Mahisa Campaka sebagai “bisul di pusar”. Kedua orang ini sewaktu-waktu dapat membahayakannya. Apalagi jika diingat bahwa Tohjaya yang membunuh Anusapati. Ia kuatir keturunan Ken Dedes akan membalas dendam padanya. Didorong perasaan takut itu Tohjaya berniat untuk melenyapkan mereka berdua. Akan tetapi, sebelum niatnya terleksana, Rangga wuni dan Mahisa Campaka mendahuluinya. Tohjaya mereka singkirkan. Hanya saja kali ini tidak menggunakan keris Empu Gandring.
Demikianlah Rangga Wuni pada tahun 1248 itu juga menjadi raja. Ia dinobatkan dengan gelar Sri Jaya Wisnuwardana (1248-1268). Wisnuwardana tidak memerintah sendiri. Ia dibantu oleh saudara sepupnya, Muahisa Campaka. Wisnuwardana tidak lupa bahwa ia dan Mahisa Campaka bersama-sama mengalami suka dan duka menghadapi Tohjaya. Oleh karena itu, setelah menjadi raja, Mahisa Campaka diangkatnya sebagai tangan kanannya. Mahisa Cempaka mendapat pangkat Ratu Angabaya dan gelarnya Narasingamurti. Wisnuwardana dan Narasingmurti memerintah Singasari dengan rukun.
Pada tahun 1254 Wisnuwardana mengangkat putranya yang bernama Kertanegara sebagai Yuwaraja atau putra mahkota. Demikianlah Kertanegara juga ikut memerintah sebagai raja muda. Masa persiapan bagi Kertanegara sebelum menjadi raja penuh.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar