Sabtu, 28 Juli 2012

Sejarah Jepang


SEJARAH JEPANG

Jepang adalah negara yang tidak begitu luas dibandingkan dengan Indonesia. Namun Jepang sudah mampu mengalahkan negara-negara Asia lainnya. Luas negara Jepang sendiri adalah + 378.000km2 (ada pula yang menyebutkan hanya 370.000 km2). Itu berarti hanya 1/25 (seper dua puluh lima) dari negara Amerika.
Pembagian zaman di Jepang tidak bisa dibagi menjadi beberapa dinasti seperti di China, karena Jepang hanya mempunyai satu dinasti. Zaman Jepang dapat dibagi menjadi beberapa zaman, yaitu:
Zaman Jōmon
(10.000 SM – 200 SM)

========>

Zaman Prasejarah
Zaman Yayoi
(200 SM – 250 M)

Zaman Yamato
(250 M – 710 M)

=>
Zaman
Kuno

=>
Zaman
Sejarah
Zaman Nara
(710 M – 794 M)

Zaman Heian
(794 M – 1185 M)

Zaman Kamakura
(1192 M – 1333 M)

=>
Zaman
Feodal
Zaman Muromachi
(1338 M – 1568 M)

Zaman Azuchi-Momoyama
(1568 M – 1600 M)

Zaman Edo
(1603 M – 1867 M)

Zaman Meiji
(1868 M – 1912 M)

=>
Zaman
modern
Zaman Taishō
(1912 M – 1926 M)

Zaman Shōwa
(1926 M – 1989 M)

Zaman Heisei
(1989 M –  sekarang)

Sampai dengan kondisi Jepang yang saat ini kita kenal dengan kecanggihan teknologinya, bangsa Jepang ternyata telah melewati aliran waktu sejarah yang panjang, hingga akhirnya terbentuklah karakter mereka seperti yang dapat kita saksikan dewasa ini. Berikut ulasan singkat mengenai sejarah bangsa dimulai dari era prasejarah.
A. Jepang Zaman Prasejarah
1)    Keadaan Zaman
Pada zaman Pleistosin (zaman es) kepulauan Jepang masih menyatu dengan daratan Asia. Kemudian pada akhir zaman Pleistosin, orang-orang pindah ke Jepang. Orang-orang tersebut dikenal sebagai nenek moyang bangsa Jepang yaitu bangsa Ainu (disebut juga bangsa Ezo atau Emishi).
       Pada zaman Paleolithikum (zaman batu tua) orang-orang hidup dengan membuat alat-alat dari batu kasar dan alat-alat dari tulang.

                 
  
pada zaman Neolithikum (zaman batu muda) orang-orang hidup dengan berburu, menangkap ikan dan mengumpulkan tanaman. Mereka tinggal dengan cara mendirikan tiang di lubang dangkal yang mereka gali dan mengunakan rumput sebagai atapnya (Tateanashikijūkyo). Di dekat tempat tinggalnya, mereka makan kerang dan membuang kulitnya sehingga terbentuk gundukan kulit kerang (Kaizuka). Mereka sudah dapat membuat alat-alat dari batu halus dan periuk. Periuk tersebut kemudaian dinamakan periuk Jōmon (Jōmon shikidoki). Dari penamaan periuk tersebut, diambil nama untuk zaman ini yaitu zaman Jōmon. Zaman ini dimulai sejak kira-kira 10.000 SM.
       Karena pada zaman Jōmon belum dikenal pertanian, orang-orang tinggal dalam kelompok kecil dengan kehidupan berburu dan mencari ikan. Pada zaman Jōmon orang-orang percaya akan adanya roh dalam semua benda yang ada di alam dan menyembahnya (animisme dan dinamisme). Menurut Kojiki (cerita zaman kuno Jepang), setelah dunia terbentuk, turunlah dewa Izanagi no Mikoto dan Izanami no Mikoto. Keduanya menciptakan dewa matahari (Amaterasu), dewi bulan (Tsukiyumi no Mikoto) dan dewi perusak (Susa no Ō no Mikoto). Amaterasu dan Tsukiyumi tinggal di nirwana, sedangkan Susa no Ō tinggal di bumi. Amaterasu menyuruh cucunya Ninigi no Mikoto turun ke bumi untuk memerintah. Dia tiba pertama kali mendarat di Hyuga (sekarang Kyūshū) dan dibekali oleh Amaterasu 3 buah pusaka yaitu Permata Yasaka, Cermin Yata dan Pedang Kusanagi. Amaterasu juga mengirim 5 dewa untuk membantu Ninigi yaitu Ame no Koyane no Mikoto (nenek moyang klan Nakatomi), Futodama no Mikoto (nenek moyang klan Inbe), Ame no Uzume no Mikoto (nenek moyang klan Sarume), Ishikoridome no Mikoto (nenek moyang pembuat cermin), dan Tamaya no Mikoto (nenek moyang pembuat permata). Cicit dari Ninigi dalam sejarah Jepang dikenal dengan nama Jinmu. Dia kemudian mengubah gelar Mikoto menjadi Tennō. Jinmu merupakan kaisar pertama Jepang (Jinmu Tennō). Kemudian Jinmu melakukan perjalanan dan menetap di Yamato. Setelah Jinmu menetap di Yamato dan menjadi kaisar, zaman pra sejarah berakhir dan dimulai zaman sejarah. Sampai sekarang masyarakat Jepang menganggap kaisar dan keturunannya adalah titisan dewa matahari.
Pada zaman batu-perunggu dan perunggu-besi (sekitar tahun 200 SM), masuk kebudayaan dari Cina. Kebudayaan itu terlihat dari bidang pertanian yang menggunakan alat-alat pertanian dari perunggu, besi dan periuk tanah corak baru. Orang-orang sudah mulai menanam padi dan gandum di sawah. Salah satu peninggalan yang terkenal pada zaman ini adalah sebuah periuk yang disebut periuk Yayoi (Yayoi shikidoshi). Periuk tersebut ditemukan di Yayoi-chō (sekarang Tōkyō) sehingga zaman ini dikenal dengan nama zaman Yayoi. Sedangkan alat yang terbuat dari perunggu adalah lonceng perunggu yang digunakan dalam upacara-upacara. Lonceng tersebut dinamakan Dōtaku.


Pada abad ke-1, pertanian bertambah maju. Masyarakat pun tinggal dalam suatu kelompok yang besar. Desa semakin berkembang dan mengakibatkan timbulnya strata sosial dalam masyarakat tersebut. Perkembangan ini menimbulkan orang yang berkuasa dan orang yang tidak berkuasa. Pemimpin wilayah tersebut berkuasa menjadi raja. Raja yang kuat menguasai raja yang lemah. Kemudian mulai terbentuk kerajaan-kerajaan kecil. Dalam buku sejarah Cina kuno, Gishi (catatan dari kerajaan Wei) yang didalamnya tertulis hikayat orang Wa (Jepang) dikatakan bahwa negara Wajin (Jepang) terbagi menjadi kira-kira 30 kerajaan-kerajaan kecil. Diantaranya yang terkuat adalah kerajaan Yamatai (Yamataikoku) dengan Himiko sebagai ratunya.
 2)   Kebudayaan
       Pada zaman batu, orang hidup dengan berburu, menangkap ikan dan mengumpulkan tanaman. Pada zaman Jōmon dan Yayoi, orang-orang hidup dengan bertani. Kebudayaan bertani tersebut terlihat dari barang-barang peninggalan purbakala yang pada sisi luarnya tergambar kehidupan bertani. Kebudayaan logam dari Cina juga masuk ke Jepang. Hal tersebut terlihat dari alat-alat pertanian yang telah memakai logam seperti sabit, cangkul, dsb. Ada juga budaya yang berkaitan dengan animisme dan dinamisme seperti mempercayai dewa, menyembah benda-benda yang ada di alam, mengadakan upacara-upacara roh, dll. Pemujaan kepada dewa-dewa lambang alam tersebut pada perkembangan selanjutnya dikenal dengan nama agama Shintō (jalan dewa). Pusat pemujaan dalam Shintōisme adalah pemujaan kepada dewi matahari dan kaisar sebagai wakilnya di bumi. Melalui agama Shintō terjadi pemujaan kekuasaan negara dengan kaisar sebagai lambangnya. Untuk pemujaan terhadap dewi matahari didirikan kuil di Ise.
 3)   Peninggalan
Peninggalan dari zaman prasejarah yang paling terkenal adalah periuk Jōmon dan periuk Yayoi. Bentuk periuk Yayoi lebih sederhana, tetapi teknik pembuatannya lebih maju dari pada periuk Jōmon. Hal tersebut karena menggunakan teknologi dari Cina. Peninggalan lainnya adalah Lonceng perunggu yang disebut Dotaku. Pada Dotaku terdapat bermacam-macam gambar yang menceritakan pola hidup pada zaman itu. Misalnya pada gambar orang menumbuk padi, berarti menceritakan kehidupan bertani. Gambar orang memanah rusa berarti menceritakan kehidupan berburu. Pada zaman Yayoi ditemukan rumah panggung (Takayukashiki). Selain digunakan sebagai tempat tinggal juga untuk menyimpan hasil pertanian.
 B. Jepang Zaman Yamato (250 M – 710 M)
1)      Keadaan Zaman
Zaman Yamato dibagi menjadi dua yaitu zaman Kofun (250 M – 550 M) dan zaman Asuka (550 M – 710 M). Pemberian nama Yamato didasarkan atas daerah kekuasaan negeri Yamato. Daerah kekuasaannya meliputi Honshū bagian selatan dan Kyūshū bagian utara. Saat itu Jepang terdiri dari daerah-daerah yang diperintah oleh gabungan-gabungan keluarga yang disebut Uji (klan). Kepalanya disebut Uji no kami atau Ujigami. Nantinya akan disebut Tennō. Masyarakat dalam organisasi klan itu adalah golongan bangsawan. Tiap klan mempunyai golongan pekerja dan budak. Bertani padi menjadi dasar perekonomian saat itu. Bentuk rumah mengalami perubahan. Kuil dan istana didirikan.
Setelah mengalami perpecahan zaman dan kekacauan politik selama tiga setengah abad, Cina kembali menjadi negara kesatuan. Keadaan politik di Cina tersebut membuat Jepang meniru sistem politik di Cina mengenai pemusatan kekuasaan.
Tahun 593 M terjadi peristiwa penting dalam sejarah politik Jepang. Susunan masyarakat Jepang yang berinti pada Uji harus diubah karena pertambahan penduduk  yang tidak dapat dipertahankan lebih lama lagi dan harus mengalami perubahan. Perubahan susunan masyarakat itu merubah pula susunan politik. Tahun 593 M, Shotoku Taishi diangkat menjadi Sesshō (penasehat bagi Tennō yang belum dewasa) bagi Tennō puteri Suiko. Dengan demikian Taishi memegang pimpinan negara. Ia mengubah susunan jabatan-jabatan tinggi di istana yang saat itu dijabat oleh kepala-kepala klan turun-temurun, diganti dengan susunan baru. Siapa saja dapat memangku suatu jabatan sesuai dengan kecakapan dan jasanya.
Tahun 604 M disusun 17 aturan. Dalam peraturan itu antara lain disebutkan  supaya agama Buddha dihormati, keluhan rakyat harus diperhatikan dan mendapat penyelesaian yang adil, petani-petani harus diperlakukan dengan baik, dan sebagainya. Tetapi apa yang diusahakan Taishi tersebut baru berupa cita-cita yang tidak dapat dengan segera dilaksanakan, yaitu cita-cita membentuk Jepang menjadi negara nasional. Baru pada tahun 645 M konsepsi tersebut terwujud. Pada tahun itu, keluarga dari klan Soga yang punya pengaruh besar dalam pemerintahan Tennō sejak tahun 587 M, dijatuhkan oleh pangeran Naka no Oe dengan bantuan Fujiwara. Setelah itu diadakan pembaharuan-pembaharuan dalam lapangan politik dan sosial yang berlangsung hingga 702 M. Gerakan pembaharuan itu dikenal dengan sebutan Reformasi Taika. Yang jadi tangan kanan Naka no Oe dalam perebutan kekuasaan dengan keluarga Soga ialah Fujiwara (no) Kamatari Dalam tahun 661 M, Naka no Oe naik tahta sebagai Tennō bergelar Tennō Tenji.
Asas-asas pembaharuan itu dijalankan dengan berangsur-angsur selama beberapa puluh tahun dan seringkali peraturan-peraturan pembaharuan tinggal di atas kertas. Seluruh negeri dan rakyat ditaruh langsung di bawah kekuasaan Tennō. Tanah pertanian dibagi antara rakyat atas dasar peraturan yang sama (sistem Kōchikōmin). Semua penduduk didaftarkan untuk tujuan pembagian tanah dan pemungutan pajak. Daerah negara dibagi dalam  kuni (propinsi) dan kori atau gun (distrik). Pemerintahan disusun dengan mencontoh kepada Cina, pemerintah pusat mengangkat pegawai-pegawai untuk menyelenggarakan administrasi pemerintahan. Dalam rangka pembaharuan-pembaharuan itu, disusun undang-undang bernama Ritsu-ryō (Ritsu adalah kitab undang-undang hukum pidana dan Ryō terdiri dari undang-undang hukum tatanegara dan hukum sipil). Disusun menurut contoh undang-undang dinasti Tang di Cina. Penyusunan kitab-kitab, undang-undang itu baru selesai pada tahun 701 M dan terkenal dengan sebutan Taihō Ritsu-ryō (pada tahun 718 M sebagian diubah dan diberi nama baru Yōrō Ritsu-ryō). Undang-undang itu dengan perubahannya menjadi dasar hukum Jepang hingga sekarang.
Pembaharuan-pembaharuan menghasilkan suatu susunan yang tampak dari luar sebagai pembentukan pemerintahan pusat, tetapi sebenarnya memupuk susunan aristokrasi baru. Pembaharuan itu tidak mendapat perlawanan karena tidak menghapuskan sama sekali hak-hak istimewa yang tertumpuk pada golongan lapisan atas dari masyarakat. Orang-orang lapisan atas itu masih tetap dalam kedudukan yang menguntungkan, hanya dalam bentuk yang berubah, sedangkan kedudukan rakyat jelata pada umumnya tidak bertambah baik. Dalam pembaharuan susunan pemerintahan itu, keluarga dari klan Fujiwara mencapai kedudukan, yang menggenggam kekuasaan yang sebenarnya di dalam negara. Dasar dari kedudukan itu diletakkan oleh Fujiwara Kamatari, tangan kanan Naka no Oe ketika meruntuhkan kekuasaan kelurga dari klan Soga.
Walaupun pembaharuan-pembaharuan dilakukan dengan mencontoh Cina, tidak semuanya yang dari Cina ditiru. Anggapan mengenai Tennō sebagai keturunan Dewi Matahari tidak berubah.
Pada zaman Asuka nama negara diganti dari Yamato atau Wa menjadi Nihon atau Nippon. Zaman Asuka (550 M – 710 M) berlangsung ketika pusat pemerintahan berada di Asuka (sekarang Nara).
2)      Kebudayaan
Pada abad ke-5 dibuka hubungan resmi antara Jepang dengan Cina. Sebagai hasilnya kebudayaan dari Cina masuk ke Jepang langsung atau melalui Paekche (Korea). Kesusasteraan, ilmu falak, obat-obatan, barang-barang masuk ke Jepang. Melalui Paekche agama Buddha masuk ke Jepang. Agama Buddha masuk ke Jepang secara resmi pada tahun 552 M, ketika Paekche mengirimkan sebuah patung Buddha emas dan beberapa jilid Buddha sutera kepada Tennō di Yamato.
Tahun 554 M Paekche mengirimkan orang terpelajar dalam kitab-kitab klasik Cina, ilmu obat-obatan, ilmu nujum, membuat penanggalan dan musik serta mengirim beberapa orang rahib agama Buddha. Setelah itu pada abad ke-6, dari Korea datang lebih banyak sutra agama Buddha, patung-patung dan tukang-tukang pembuat patung, rahib-rahib dan seorang ahli bangunan kuil.
Mula-mula Tennō tidak tegas mengenai agama Buddha. Setuju atau menolak agama Buddha. Tetapi atas dorongan Klan Soga, agama Buddha berkembang di Jepang. Pemeliharaan benda benda suci (patung Buddha dan Buddha sutera) dari Korea ditugaskan kepada keluarga Soga. Pertikaian timbul antara Klan Soga dengan 2 klan Soga yang lain, Nakatomi dan Mononobe, yang membela agama nasional asli, yaitu agama Shintō. Pertengkaran tentang setuju tidaknya dengan agama Buddha menjadi perebutan kekuasaan dengan terang-terangan. Pada tahun 587 M klan Soga menang dan pengaruhnya membayangi kekuasaan Tennō. Sejak itu agama Buddha di Jepang mendapat kemajuan.
Karena bangsa Jepang belum pandai menulis dan membaca, maka pada permulaan dalam perhubungan dengan Cina itu dipakai perantaraan orang-orang Korea dan orang-orang Cina itu sendiri. Dengan lambat laun bangsa Jepang belajar menulis dan membaca. Baru pada akhir abad ke-5 oleh pemerintah Jepang dilakukan dengan resmi pemakaian huruf Cina, tetepi pegawai-pegawai untuk pekerjaan tulis menulis sementara masih terdiri dari orang orang Korea atau Cina yang menjadi orang kewarganegaraan Jepang. Pada saat itu mulai disusun Kojiki (kumpulan cerita zaman kuno) dan Nihongi atau Nihonshoki (catatan sejarah Jepang). Selesai disusun pada abad ke-7.
Dengan masuknya kesusasteraan Cina ke Jepang, filsafat Cina tersiar di kalangan orang-orang besar. Antara lain Konfusianisme dan Taoisme. Konfusianisme menanamkan pengaruhnya seperti pemujaan nenek moyang, kesetiaan kepada keluarga, kebaktian anak kepada keluarga, dsb. Pengaruh Taoisme masuk pula ke Jepang. Unsurnya dalam bentuk penggunaan magic atau sihir.
3)      Peninggalan
Dari segi arsitektur yang paling populer di zaman ini adalah kuburan kuno (kofun). Kofun adalah kuburan kuno untuk mengubur mayat dalam peti mati. Dari kata Kofun ini menjadi dasar penamaan pada zaman ini (zaman Kofun). Untuk keluarga Tennō dan keluarga terkemuka dibuat bukit-bukit kuburan. Kuburan untuk Tennō disebut Misasagi. Kuburan milik Nintoku Tennō ( meninggal ± tahun 400 M). Mempunyai ukuran yang sangat besar. Kuburan itu termasuk kuburan terbesar di dunia. Panjangnya kira-kira 1700 kaki, tingginya lebih dari 100 kaki dikelilingi parit dan luasnya (terhitung paritnya) kira-kira 80 acres (1 acre = 4047 m2).


Di dalamnya terdapat cermin perunggu, pedang, zirah, helm dan ikat pinggang dari perunggu atau besi, manik-manik kecil berbentuk bulan sabit itu sebesar kuku dan disebut Magatama.
Di sekitar Kofun biasanya terdapat Haniwa yaitu barang-barang yang terbuat dari tanah liat yang ditempatkan dengan teratur di sekeliling tumuli. Bentuk haniwa itu bermacam-macam. Biasanya berupa orang, binatang piaraan, perabot rumah dan perkakas dan dapat memberikan gambaran tentang kehidupan pada masa itu.


Dengan adanya hubungan dengan Cina dan Korea, agama Buddha masuk dan kuil-kuil didirikan. Misalnya kuil di Ise (untuk dewi matahari) dan di Izumo (untuk dewi bumi). Kuil lain yang terkenal pada zaman ini adalah Horyūji. Kuil ini menjadi kuil kayu tertua di dunia.
C. Jepang Zaman Nara (710 M – 794 M)
1)    Keadaan Zaman
Dengan adanya reformasi Taika, sistem pemerintahan di Jepang meniru sistem pemerintahan yang ada di Cina. Jepang pun meniru membuat kota seperti di ibukota Cina, Chang’an dan menjadikan Heijō (sekarang Nara) sebagai ibukota sekaligus pusat pemerintahan pada tahun 710 M (Hal inilah yang membuat zaman ini dinamakan zaman Nara).
Pada saat itu kaisar membuat undang-undang Taiho (Taihō Ritsuryō). Kaum bangsawan dapat menikmati kehidupan dengan menyenangkan. Di Heijo didirikan pasar. Kemudian untuk memudahkan jual beli dibuatlah Wadokaihō (uang kuno berbentuk bulat yang terbuat dari tembaga dengan diameter 10,95 mm dan berat 0,13 ons yang dibuat tahun 708 M).
Pada zaman ini kaum petani sangat miskin dan menderita karena pajak yang tinggi, sehingga banyak yang membuang tanahnya. Kemudian istana membuat peraturan tentang pemberian tanah kepada orang yang akan membuka lahan tersebut. Setelah peraturan tersebut ditetapkan, terjadi persaingan antara bangsawan, kuil dan keluarga penguasa untuk membuka lahan baru, sehingga tanah pribadi semakin berambah. Tanah pribadi yang bebas pajak tersebut dinamakan Shōen. Karena peraturan tersebut, pemerintahan menjadi kacau. Bangsawan dan pendeta yang punya tanah luas menjadi berkuasa di pemerintahan. Kekacauan tersebut menjadikan zaman ini berakhir.
 2)   Kebudayaan
Zaman Nara merupakan puncak pertama dalam perkembangan budaya Jepang. Dari segi arsitektur, banyak bangunan atau kuil yang didirikan dengan meniru gaya bangunan Cina. Dalam kesusastraan dihasilkan Kojiki (cerita zaman kuno) dan Nihongi atau Nihonshoki (sejarah jepang). Kojiki selesai ditulis pada tahun 712 M dan dikumpulkan oleh Onoyasumaro. Nihongi selesai ditulis pada tahun 720 dan dikumpulkan oleh Toneri Shinno. Penulisan keduanya dilakukan dengan bantuan orang Cina dan Korea. Karena pada saat penyusunannya orang Jepang belum punya huruf sendiri dan belum pintar menulis. Para ahli sejarah menyatakan bahwa sebagian cerita/sejarah dalam Nihongi bukanlah sejarah yang sebenarnya, terutama sejarah sebelum tahun 400 M. Misalnya dalam Nihongi dikatakan bahwa pemerintahan kaisar Jinmu dimulai sejak tahun 660 SM – 581 SM, padahal setelah ditelusur kaisar Jinmu memerintah sejak permulaan abad Masehi. Banyak hal yang bukan dari zaman purba dimasukkan ke dalamnya. Diperkirakan kebohongan itu ditulis dengan tujuan politik dan agama untuk mempertinggi martabat kerajaan dan memberikan bukti adanya zaman purbakala. Ada juga Fudoki (legenda dan profil tiap daerah), dan Manyōshū (kumpulan puisi. Ada sekitar 4500 puisi). Manyōshū ditulis dengan Manyōgana yaitu tulisan dengan struktur bahasa Cina (Kanji) tetapi menggunakan cara baca Jepang.
3)    Peninggalan
       Kaisar Shōmu membangun kuil Tōdaiji di Nara dengan patung Daibutsu. Patung tersebut dibuat dari perunggu setinggi 53 kaki. Patang ini selesai dibuat tahun 725 M. Pada tahun 756 M didirikan Shōshōin di dekat kuil Tōdaiji untuk menyimpan barang-barang kesenian peninggalan kaisar Shomu.
D. Zaman Heian (794 M – 1185 M)
1)    Keadaan Zaman
Untuk membangun kembali pemerintahan Ritsuryō yang kacau, kaisar Kanmu memindahkan ibukota ke Heian-kyō (sekarang Kyōto) pada tahun 794 M. Pada zaman ini, tanah pribadi yang bebas pajak (shōen) semakin bertambah. Para petani kecil melepaskan hak untuk membayar pajak kepada negara dan menyerahkannya kepada bangsawan terkemuka. Kemudian bangsawan tersebut dianggap majikannya dan petani tersebut menggarap tanah majikannya. Pajak yang seharusnya diberikan kepada negara malah masuk ke bangsawan penguasa shōen. Akibatnya penghasilan negara makin berkurang dan golongan bangsawan semakin makmur.
Keluarga Fujiwara yang memiliki shōen sangat banyak menjadi kaum penguasa (kizoku) yang paling berkuasa. Kekuasaan Fujiwara pun mulai menjalar ke istana. Hal itu terjadi setelah Fujiwara Yoshifusa diangkat menjadi Sesshō (penasehat bagi kaisar yang belum dewasa) bagi kaisar Seiwa pada tahun 858 M. Kemudian Fujiwara Mototsune menjadi orang pertama yang menjadi Kanpaku (penasehat bagi kaisar yang telah dewasa). Puncaknya terjadi pada masa Fujiwara Michinaga. Pada masa itu kebudayaan golongan aristokrasi telah mencapai kemakmurannya dan kekayaan Fujiwara melebihi kekayaan kaisar.
Saat keluarga Fujiwara hidup mewah di ibukota, kaum militer meluaskan kekuasaannya di daerah. Kaum militer membentuk kelompok militer dengan kaum bangsawan yang berkuasa. Dua kekuatan militer yang paling besar adalah keluarga Minamoto (Genji) dan keluarga Taira (Heishi). Pada pertengahan abad ke-11, kekuatan Fujiwara yang ditaktor melemah. Tennō Shirakawa yang meskipun telah turun tahta tapi tetap masih memerintah (Jōko) memegang kekuasaan tunggal pemerintahan. Setelah itu terjadi pertentangan antara Jōko dengan Tennō. Masing-masing bersekutu dengan dua kaum militer terkuat yaitu keluarga Taira dan Minamoto.
Selama tahun 1160 M – 1199 M terjadi peperangan antara keluarga Taira melawan keluarga Minamoto. Peperangan ini dikenal dengan peperangan Hōgen&Heiji. Zamannya dinamakan zaman Genpei. Pada saat itu keluarga Taira (sekutu dari pihak Tennō) yang dipimpin Kiyomori, mengalahkan keluarga Minamoto (sekutu dari pihak Jōko) yang dipimpin Yoshitomo sehingga menggantikan kekuasaan Fujiwara. Dengan runtuhnya keluarga Fujiwara, zaman Heian pun berakhir.
2)    Kebudayaan
http://moshimoshi.netne.net/materi/sejarah_jepang/bab_4_files/image015.gifHiragana (urutan iroha)
Pada zaman Heian, kebudayaannya masih mencontoh Cina, tetapi memasuki akhir abad ke-9 dinasti Tang mulai goyah. Karena pengaruh Cina makin berkurang, maka muncullah kebudayaan baru khas Jepang (Kokufū bunka).
Di bidang sastra lahirlah tulisan Hiragana dan Katakana untuk menggantikan Manyōgana (kanji yang dibaca dalam bunyi bahasa Jepang). Huruf yang lahir pertama kali adalah Katakana. Katakana diciptakan oleh Kibinomakibi. Pada saat itu Katakana hanya digunakan oleh laki-laki. Kemudian lahirlah Hiragana yang diciptakan oleh Kobodaishi. Pada saat itu Hiragana hanya digunakan oleh wanita. Karya-karya sastra yang berkembang pada zaman ini adalah Waka. Atas perintah kaisar dibuatlah kumpulan Waka yang disebut Kokinwakashū.
Selain itu berkembang pula Nikki (catatan harian), Zuihitsu (essay), dan Monogatari (cerita/dongeng). Yang paling terkenal saat itu adalah Genji monogatari karangan Murasaki Shikibu yang menceritakan kehidupan di kalangan istana. Ada juga Makuranosōshi karya Seishōnagon. Bahasa pun mengalami perkembangan. Pada zaman ini dipakai bahasa Jepang klasik (Chūko nihongo) yang merupakan perkembangan dari bahasa Jepang kuno (Jōdai nihongo).
Dari segi industri, kertas berkembang sangat pesat. Pabrik kertas didirikan dan teknik membuat kertas semakin berkembang.
3)    Peninggalan
Ruang Phoenix (Hōdō) yang terdapat di kuil Byōdōin yang didirikan oleh Fujiwara Yorimichi di Kyōto adalah bangunan yang paling terkenal pada zaman ini. Cara membangunnya merupakan cara membangun tempat tinggal penguasa pada saat itu yang disebut Shinden zukuri. Bangunan terkenal lainnya adalah istana Heian. Istana ini dibangun meniru gaya di Chang’an. Tapi tahun 1227 M istana ini habis terbakar.

E. Jepang Zaman Kamakura (1192 M – 1333 M)
1)    Keadaan Zaman
Setelah keluarga Taira yang dipimpin Kiyomori, mengalahkan keluarga Minamoto yang dipimpin Yoshitomo, semua keluarga Minamoto dibunuh kecuali Yoritomo dan Yoshitsune (keduanya masih kecil). Mereka tidak dibunuh karena ibu Yoshitsune dijadikan selir oleh Kiyomori. Karena peperangan tersebut, Kiyomori menggantikan kedudukan keluarga Fujiwara di Kyōto.


Pada tahun 1180 M Yoritomo membentuk markas di Kamakura dan punya banyak pengikut. Yoshitsune juga membantunya untuk mengalahkan keluarga Taira. Tahun 1185 M Yoritomo menyuruh Yoshitsune dan Kiso Yoshinaka untuk menyerang keluarga Taira. Terjadi pertempuran di Dan no Ura. Dalam pertempuran tersebut Yoshitsune mengalahkan keluarga Taira. Kemenangan Yoshitsune tersebut ternyata menimbulkan iri hati pada Yoritomo. Akhirnya Yoshitsune dibunuh.

Yoritomo menguasai Jepang dengan sistem pemerintahan militer (pemerintahan Bakufu) dan mendirikan pusat pemerintahan di Kamakura (Hal inilah yang menyebabkan penamaan zaman ini dinamakan zaman Kamakura). Saat itu ada 2 macam pemerintahan yaitu pemerintahan sipil dan agama yang dipimpin oleh oleh Tennō yang ada di Kyoto dan pemerintahan militer (bakufu) yang dipimpin oleh Yoritomo yang ada di Kamakura.
Tahun 1185 M Yoritomo memberikan tanah kepada kaum militer yang aktif berperang dan menjadikan mereka sebagai pengikutnya (Gokenin). Gokenin yang berpotensi dijadikan Shugo (kepala polisi di daerah) dan Jittō (pengawas tanah yang bertugas mengumpulkan pajak). Tahun 1192 M Yoritomo mendapat gelar Sei-i-tai-Shōgun  (=Jendral yang menundukkan orang-orang liar. Orang liar di sini adalah bangsa Ainu yang keberadaannnya semakin terpinggirkan) dan sejak saat itu dimulailah pemerintahan Bakufu yaitu pemerintahan militer yang dipimpin oleh Shōgun . Shugo dan Jittō yang diangkat dari keluaga dan pengikut dari Yoritomo mulai menghapus sistem Shōen (tanah pribadi yang bebas pajak). Akhirnya Shugo menguasai daerah propinsi dan menjadi kepala daerah dengan sebutan Daimyō. Mereka membentuk prajurit-prajurit bersenjata yang disebut Samurai. Para Daimyō semakin berkuasa dan pemerintah Bakufu semakin lemah.
Setelah Yoritomo meninggal tahun 1199, kekuasaan Bakufu bergeser ke keluarga Hōjō (keluarga asal istri Yoritomo yaitu Masako). Tahun 1256, Tokimune (usia 6 tahun) menjadi kaisar. Selama pemerintahannya dua kali Jepang diserang oleh pasukan Kubilai Khan (tahun 1274 M dan 1281 M). Para Gokenin yang ikut berperang tidak mendapatkan balas jasa yang cukup. Gokenin merasa tidak puas dan tidak lagi mengikuti pemerintahan Bakufu.
Tahun 1333 M, Tennō Godaigo yang melihat lemahnya Bakufu ini, memanggil para Gokenin yang tidak puas terhadap keluarga Hōjō untuk menjatuhkan Bakufu. Tokoh yang berjasa dalam perebutan kekuasaan itu adalah Ashikaga Takauji, Kibatake Chikafusa, Kusonoki Masahige dan Niita Yoshida. Dengan jatuhnya Bakufu Kamakura maka berakhirlah zaman Kamakura.
 2)   Kebudayaan
Zaman Kamakura merupakan zaman dimulainya sistem pemerintahan feodal (Hōkenseido). Sistem pemerintahan seperti ini baru dapat diakhiri setelah zaman Edo. Oleh karena itu kebudayaan pada masa itu adalah kebudayaan feodal. Inti dari sistem feodal tersebut adalah pengelolaan tanah dikerjakan oleh petani dan pemilik tanah menggunakan tenaga Bushi (Samurai) sebagai alat pemeras petani agar mereka terus bekerja dan membayar pajak yang tinggi.
Pada zaman ini lahir golongan prajurit yang disebut Samurai, sehingga pada zaman ini muncul dua orang pembuat pedang yang terkenal yaitu Masamune dan Muramasa. Adanya Samurai juga melahirkan suatu etika atau ajaran hidup yang disebut Bushidō. Misalnya berani mati, berani menghadapi bahaya, menjunjung tinggi tanah air, setia kepada pemimpin, dll. Bushido memberikan pedoman kepada setiap tingkah laku dalam pergaulan di masyarakat, termasuk cara berbicara, memberi hormat, mempertahankan kehormatan, dsb. Harakiri (bunuh diri dengan memotong perut) dianggap perbuatan yang mulia untuk menjunjung kehormatan.
 3)   Peninggalan
Kehidupan kaum militer pada zaman ini juga melahirkan sastra yang melukiskan peperangan kaum militer yang disebut Gunki Monogatari, salah satunya yang paling terkenal adalah Heike Monogatari yang melukiskan bangkit dan jatuhnya keluarga Taira.
Dari segi arsitektur, banyak dibuat patung Buddha (dari batu, kayu, perunggu, tembaga). Patung yang paling terkenal adalah Daibutsu di Kamakura. Patung ini dibuat dari tembaga dan tingginya 15 meter. Arsitektur pada zaman ini lebih mementingkan keindahan yang struktural dari pada yang bersifat hiasan. Misalnya di gerbang depan kuil Todaiji yaitu patung Niō (Kongōrikishi). Di zaman ini banyak pula dibuat lukisan gulung (emaki) seperti Genji Monogatari Emaki, Mōkoshūrai Emaki.
Pada zaman ini muncul juga Buddha aliran Zen. Aliran Zen cocok dengan kepribadian kaum militer karena aliran ini mengajarkan kedisiplinan batin dengan meditasi Zen (Zazen).
       Tanaman teh juga mulai masuk ke Jepang dan menggantikan sake yang memabukkan.
)
F.  Jepang Zaman Muromachi (1338 M – 1568 M)
     1)    Keadaan Zaman
Setelah bakufu Kamakura roboh, pada tahun 1333 M kaisar Godaigo berkehendak memerintah secara de jure dan de facto. Perubahan dari pemerintahan bakufu menjadi pemerintahan yang berpusat pada kaisar tersebut dikenal dengan nama restorasi Kenmu. Restorasi tersebut hanya berlangsung sampai 1336 M, karena pada tahun 1336 M Ashikaga Takauji yang sebelumya membantu kaisar, berbalik menentang kaisar yang ingin memerintah sendiri. Ia menyerang Kyōto. Niita Yoshida dan Kusonoki Masahige yang setia pada kaisar, gugur pada pemberontakan tersebut.
Kaisar kalah dan mundur ke Yoshino (di Nara) dan mendirikan istana di sana. Sementara itu di Kyōto telah diangkat kaisar baru. Karena itu pada tahun 1336 M –1392 M ada dua orang Tennō. Tennō yang di utara/Kyōto (Tennō Kōmyō) dan Tennō yang di selatan/Yoshino (Tennō Godaigo). Tennō yang di utara mendirikan istana Hokuchō (istana utara) dan Tennō yang di selatan mendirikan istana Nanchō (istana selatan). Sehingga pada rentang waktu tersebut dikenal juga dengan zaman Nanbokuchō (zaman istana di utara dan selatan). Rakyat menganggap bahwa Tennō yang sah adalah Tennō yang ada di Yoshino (selatan). Sehingga ada pula yang menamakan zaman ini sebagai zaman Yoshino.
Tahun 1338 M, Tennō Kōmyō mengangkat Ashikaga Takauji sebagai Seiitai Shōgun dan mendirikan bakufu di Kamakura (ada juga yang menyebut zaman ini sebagai zaman Ashikaga). Takauji menjalankan pemerintahan diarki. Dirinya menjadi kepala kalangan samurai, sedangkan adiknya yang bernama Ashikaga Tadayoshi menjadi kepala administrasi pemerintahan. Pemerintahan diarki tersebut ternyata menimbulkan konflik internal dalam keshōgunan.

Kō no Mōronao beserta pendukungnya yang anti-Tadayoshi berhadapan dengan kelompok pro-Tadayoshi. Takauji yang semulanya bersikap netral akhirnya memihak Mōronao. Tadayoshi dipaksa mengundurkan diri dari jabatannya dan dijadikan biksu. Putra Takauji yang bernama Yoshiakira menggantikan Tadayoshi sebagai kepala pemerintahan. Setelah Tadayoshi mengundurkan diri, putra angkatnya yang bernama Ashikaga Tadafuyu melarikan diri ke Kyūshū dan memberontak terhadap Shōgun.
Pada tahun 1350 M, ketika Takauji memimpin ekspedisi untuk menghabisi Tadafuyu, Tadayoshi melarikan diri dari Kyōto dan bergabung dengan istana selatan. Pasukan Tadayoshi menjadi semakin kuat, sehingga Yoshiakira melarikan diri dari Kyōto karena kalah perang. Pasukan Takauji juga kalah melawan pasukan Tadayoshi. Tahun 1351 M, Takauji berdamai dengan Tadayoshi dengan syarat Kō no Mōronao dan Kō no Mōrouji dijadikan biksu. Tadayoshi kembali menjadi sebagai pembantu Yoshiakira. Takauji dan Yoshiakira memiliki rencana untuk menghabisi Tadayoshi dan Tadafuyu. Namun Tadayoshi lebih dahulu melarikan diri. Di tahun 1351 M juga Tadayoshi tertangkap.
Kemudian pihak istana selatan yang dipimpin pangeran Muneyoshi, Nitta Yoshioki, Nitta Yoshimune, dan Hōjō Tokiyuki menyerang pasukan Takauji. Tahun 1354 M, pihak istana selatan untuk sementara berhasil menduduki Kyoto. Tapi tahun 1355 M, berhasil direbut kembali oleh pihak istana utara.
Tahun 1392 M Shōgun  generasi ke-3 yaitu Ashikaga Yoshimitsu (cucu Ashikaga Takauji) memindahkan bakufu dari Kamakura ke Moromachi, dan mendirikan bakufu Muromachi. Maka mulai tahun 1392 M – 1573 M disebut zaman Muromachi. Tahun 1392 M Ashikaga Yoshimitsu mendamaikan istana utara dan istana selatan yang sebelumnya berselisih. Tennō yang di selatan kembali ke Kyoto dan mengundurkan diri serta mengakui Tennō utara sebagai penggantinya.
Tahun 1394 M Ashikaga Yoshimitsu menyerahkan jabatan Shōgun  kepada anaknya, kemudian ia mengundurkan diri tetapi masih tetap memerintah. Ashikaga Yoshimitsu yang mengundurkan diri ke Kitayama (dekat Kyoto) mendirikan paviliun emas (Kinkaku).
Setelah Yoshimitsu meninggal tahun 1408 M, timbul kekacauan dalam pemerintahan. Terjadi percampuran Kuge (golongan bangsawan) dan Buke (golongan militer) yang berlanjut pula dalam budayanya, yaitu timbulnya Bukebunka (kebudayaan militer-bangsawan). Dalam kenyataannya, golongan Kuge kalah dari golongan Buke sehingga golongan Kuge jatuh miskin.
Di ibukota Kyoto, Bakufu berkuasa tetapi kekuasaannya tidak mendapat penghargaan dari Daimyō. Bakufu tidak mampu mengatasi kekacauan pemerintahan yang disebabkan oleh Daimyō-Daimyō yang saling berperang untuk memperluas daerah dan lingkungan kekuasaannya.
Meskipun pemerintahan dalam negeri sedang kacau, tapi perdagangan baik di dalam maupun luar negeri mengalami kemajuan yang pesat. Bahkan pada tahun 1543 M Jepang membuka hubungan dagang dengan Portugis. Tahun 1549 M Franciscus Xaverius memasukkan agama Kristen ke Jepang. Selain agama, tembakau dan senjata api juga masuk ke Jepang.
Pada masa pemerintahan Ashikaga Yoshimasa (Shōgun  generasi ke-8), pemerintahan semakin kacau. Dia mendirikan paviliun perak (Ginkaku) di Higashiyama. Untuk membiayai pembangunan paviliun tersebut harus ditarik pajak yang besar dari rakyat. Rakyat pun mengadakan pemberontakan. Puncak kekacauan terjadi pada perang Onin (Onin no ran) yang berlangsung 11 tahun (1467 M – 1477 M). Perang itu disebabkan oleh perselisihan dua orang pemimpin militer yaitu Yamanaka Sozen dan Hosokawa Katsumoto. Perang tersebut merupakan suatu tanda dari permulaan pergolakan mati-matian yang baru dapat diakhiri tahun 1615 M. Masa peperangan selama 100 tahun lebih tersebut disebut sebagai Sengoku jidai (zaman negara-negara berperang).
                   Bakufu Moromachi jatuh setelah Oda Nobunaga berhasil merampas Kyōto.
2)      Kebudayaan
Dari segi arsitektur dibuat bangunan yang sangat megah seperti Kinkaku dan Ginkaku. Dari segi seni lahirlah seni minum teh dan seni merangkai bunga (ikebana) serta lukisan dengan tinta Cina. Dari segi pertunjukan, lahirlah drama Nō dan Kyōgen (lelucon). Nō diciptakan oleh Kan’ami dan Zeami. Dari segi pertanian, petani telah mampu membuat kincir angin dan sistem tumpang sari.
3)      Peninggalan
Bangunan yang paling terkenal pada zaman ini adalah Kinkaku dan Ginkaku. Kinkaku atau paviliun emas didirikan oleh Ashikaga Yoshimitsu. Bangunannya mengambil gaya arsitektur bangsawan dan gaya kuil Zen di Cina yang seluruhnya dilapisi emas. Sedangkan Ginkaku atau paviliun perak didirikan oleh Ashikaga Yoshimasa. Bangunannya mengambil gaya arsitektur kuil Zen yang disebut Shōinzukuri. Shōinzukuri merupakan gaya bangunan yang di dalamnya terdapat Tokonoma, Chigaidana (rak), Tatami (lantai tikar), Fusuma (pintu geser dari kertas), dan Akarishōji (jendela kertas). Gaya ini menjadi dasar rumah gaya Jepang sekarang.
G. Zaman Azuchi-Momoyama (1568 M – 1600 M)
1)    Keadaan Zaman
Keluarga Ashikaga yang ada di ibukota sudah semakin lemah dan tidak mampu menjaga kestabilan negara. Akhirnya salah seorang Daimyō terkuat yaitu Oda Nobunaga dengan bantuan Toyotomi Hideyoshi dan Tokugawa Ieyasu berhasil mempersatukan Jepang. Tahun 1568 M Nobunaga berhasil merampas Kyōto dan mengangkat Ashikaga Yoshiaki sebagai Shōgun  boneka (Shōgun  yang kekuasaannya ada di tangan majikannya). Jadi kekuasaannya ada di tangan Nobunaga.
Nobunaga memerintahkan Hideyoshi untuk menundukkan Daimyō di sebelah barat, dan memerintahkan Ieyasu untuk menundukkan Daimyō di sebelah timur dan utara. Sementara dirinya sendiri membereskan bagian pusat. Nobunaga mendapat perlawanan dari kaum padri yang menjadikan biara-biara Buddha sebagai benteng pertahanan. Serangan Nobunaga yang sangat keras terhadap Buddhisme akhirnya dapat menghancurkan biara-biara tersebut. Dia dibantu orang-orang Kristen dari Portugis dengan senjata apinya. Nobunaga mengijinkan pelaksanaan perdagangan bebas, terutama dengan bangsa Portugis dan Spanyol, serta melindungi agama Kristen. Hal itu dilakukan untuk menekan agama Buddha dan mendapatkan senjata api.
Tahun 1573 M Nobunaga mendirikan istana Azuchi. Saat Nobunaga melanjutkan masalah penyatuan negeri, dia meninggal karena dibunuh pengikutnya yang bernama Akechi Mitsuhide pada tahun 1582 M.
Kekuasaan Nobunaga berpindah ke Toyotomi Hideyoshi. Hideyoshi kemudian membangun istana Momoyama (Fushimi) sebagai tempat tinggalnya, tetapi tempat pemerintahannya ada di istana Osaka (Himeji). Hideyoshi berhasil menyatukan Jepang pada tahun 1590 M setelah menaklukkan keluarga Hōjō di Odawara dan keluarga Shimaru di Kyūshū.
         Saat berkuasa Hideyoshi mengontrol kekuasaan para Daimyō dan menetapkan cara menarik pajak yang disebut Taikōkenchi serta mengatur para petani untuk mencegah timbulnya pemberontakan petani. Dengan demikian pembagian antara Daimyō dan petani semakin maju. Sistem Shōen pun hilang. Hideyoshi pun berniat meluaskan kekuasaannya sampai ke Korea pada tahun 1592 M dan 1597 M tetapi gagal. Zaman Azuchi-Momoyama berakhir setelah Toyotomi meninggal dalam pertempuran Sekigahara melawan Tokugawa Ieyasu.
2)    Kebudayaan
Dari segi arsitektur, bangunan dibuat secara mewah. hal itu terlihat dari istana Azuchi, istana Momoyama dan istana Oosaka. Dari segi seni, kebiasaan minum teh juga makin berkembang dan kebiasaan tersebut ditetapkan sebagai suatu tatacara minum teh yang disebut Sadō. Dari segi bahasa, kosakata asing mulai masuk karena pada zaman ini perdagangan dengan bangsa barat dibuka.
3)    Peninggalan
Istana Azuchi dan Momoyama adalah suatu istana yang megah pada zaman ini. Hal inilah yang membuat nama zaman ini diambil dari kedua istana tersebut. Saat ini kedua istana tersebut sudah tidak ada, tetapi dengan masih adanya istana Oosaka (Himeji) paling tidak dapat menggambarkan kemegahan kedua istana tersebut.

H. Jepang Zaman Edo (1603 M – 1867 M)
     1)    Keadaan Zaman
Setelah mengalahkan Toyotomi Hideyoshi dalam pertempuran Sekigahara pada tahun 1600 M, Tokugawa Ieyasu diangkat menjadi Seiitai Shōgun  pada tahun 1603 M dan mendirikan Bakufu di Edo (sekarang Tōkyō). Sehingga zaman ini disebut zaman Edo atau zaman Tokugawa.
Tidak lama setelah pertempuran Sekigahara, para Daimyō diambil sumpahnya secara tertulis kemudian mereka dibagi menjadi beberapa kelas, yaitu:

Shinpan Daimyō = Merupakan Daimyō yang paling dekat dengan keluarga Tokugawa dan dapat berhubungan langsung dengan keluarga Tokugawa. Daimyō kelas ini memegang posisi penasehat dalam pemerintahan dan diberikan wilayah yang dekat dengan Edo.
Fudai Daimyō =   Merupakan Daimyō yang terdiri dari pengikut setia Ieyasu sebelum Ieyasu berkuasa yaitu sebelum perang Sekigahara. Daimyō kelas ini memegang jabatan di hampir semua kantor pemerintahan dan ditempatkan di Jepang bagian tengah dan timur yang tidak begitu jauh dari Edo. Mereka merupakan pengawal keamanan dari Kyoto dan Edo.
Tozama Daimyō = Merupakan Daimyō yang terdiri dari pengikut setia Ieyasu setelah perang Sekigahara. Daimyō ini memiliki kekuasaan yang kecil karena ditempatkan di Jepang bagian barat, utara dan selatan yang jauh dari Edo.
Wilayah yang diberikan pada bakufu tersebut dinamakan Han. Untuk mengatur Han, Bakufu membuat sistem yang disebut sistem Bakuhan (Bakuhan Taisei). Dalam sistem Bakuhan, Bakufu memegang kekuasaan seluruh negeri, sedangkan Daimyō memegang kekuasaan atas wilayah yang diberikan kepadanya (Han).
Untuk mengatur Daimyō, Tokugawa Ieyasu menetapkan peraturan yang harus dipatuhi oleh para Daimyō yang disebut Bukeshōhattō. Salah satunya adalah para Daimyō dilarang memperkuat pasukannya atau mendirikan benteng tanpa sepengetahuan pemerintah pusat (Bakufu).
Bakufu juga membatasi wewenang pihak istana dengan peraturan Kugeshōhattō. Tennō dan golongan Kuge (bangsawan) diberikan penghasilan sesuai kedudukan mereka tapi tidak diberikan tanah. Pengangkatan pejabat istana harus dengan persetujuan Bakufu. Tennō tidak boleh aktif turut serta dalam pemerintahan dan hanya punya fungsi sakral. Tennō tidak dapat diganggu gugat tetapi sama sekali tidak punya kekuasaan apapun. Ada juga larangan Katanagari, yaitu larangan memiliki senjata bagi petani. Hal ini dilakukan karena sering timbulnya pemberontakan oleh petani yang disebabkan besarnya pajak yang harus mereka bayar. Dengan adanya ketiga peraturan tersebut maka Jepang menjadi sangat tenang dan stabil.
Pada mulanya Tokugawa Ieyasu menerima agama Kristen dengan baik, tapi karena timbul kekhawatiran ancaman bahaya politik dari agama Kristen, ia menutup perdagangan dengan bangsa Eropa dan mulai menindas agama Kristen. Penduduk yang beragama Kristen pun memberontak. Perdagangan diperketat hanya bangsa Asia dan Belanda yang boleh berdagang, itupun dengan pengawasan ketat. Jepang menjadi negara yang mengisolasikan diri dari pengaruh barat. Politik isolasi negeri seperti ini disebut Sakoku.
Tahun 1605 M Ieyasu menyerahkan jabatannya kepada anaknya, Tokugawa Hidetada (Shōgun  generasi ke-2). Tetapi dirinya masih memerintah sebagai Shōgun yang mengundurkan diri sampai dirinya meninggal tahun 1616 M.
Kemudian Shōgun generasi ke-3, Tokugawa Iemitsu membuat peraturan untuk mengatur para Daimyō yang disebut Sankin Kōtai, yaitu para Daimyō diwajibkan untuk datang dan menetap di Edo sampai beberapa waktu untuk membantu pemerintah pusat. Perekonomian para Daimyō menjadi susah sehingga tidak punya tenaga untuk melawan Shōgun.
Susunan masyarakat pada zaman Edo disebut Shinōkōshō. Kata Shinōkōshō berasal dari:
Shi= bushi= samurai/militer
Nō= nōmin= petani
Kō= kōsakunin= pekerja
Shō= shōnin= pedagang
Selain itu masih ada golongan masyarakat yang tidak digolongkan ke dalam Shinōkōshō, yaitu orang-orang buangan yang disebut Eta atau Hinin.
Pembagian tatanan sosial ini didasarkan pada ajaran Konfusianisme yang mengajarkan pemaham terhadap hakikat takdir yaitu bahwa manusia harus menerima takdirnya sejak lahir dan tidak dapat menggugat takdir. Pemikiran ini membuat rakyat terpaksa menerima keadaan serta status yang dimilikinya dan tidak dapat memperbaiki statusnya ke tingkat yang lebih tinggi. Diskriminasi kelas pun semakin jelas. Tujuan ditetapkan Shinōkōshō adalah supaya kelas penguasa tetap pada kedudukannya dan memiliki kekuatan untuk menekan kelas yang berada di bawahnya.
Pada zaman Genrōku (zaman kecil yang ada selama zaman Edo. Berlangsung tahun 1646 M sampai 1709 M) perekonomian menjadi kacau karena krisis ekonomi. Tokugawa Yoshimune (Shōgun  generasi ke-8) melakukan beberapa pembaharuan untuk membangun kembali perekonomian Bakufu. Ada tiga reformasi yang dilakukan.
Reformasi pertama = Merancanakan pajak yang berlipat ganda  dan cara membuka lahan baru serta memerintahkan kaum Bushi untuk menghentikan hidup bermewah-mewah dan berhemat. Reformasi ini berhasil, tetapi tidak berlangsung lama.
Reformasi kedua = Memerintahkan kaum Bushi untuk berhemat, menganjurkan Bushi untuk belajar beladiri dan ilmu pengetahuan serta mengeluarkan perintah bahwa Bushi tidak perlu membayar hutan kepada kaum pedagang. Reformasi ini gagal tapi mampu menolong kaum Bushi.
Reformasi ketiga = Memerintahkan kaum Bushi untuk berhemat dan melarang perkumpulan pedagang besar yang melakukan pemborongan. Reformasi ini gagal.
Karena krisis ekonomi, para Daimyō jatuh miskin dan mereka menyalahkan Bakufu. Yang paling buruk nasibnya adalah petani, karena harus membayar pajak yang tinggi. Perasaan tidak senang dan tidak puas terhadap Bakufu itu memupuk gerakan nasionalisme dan menjadi kekuatan besar yang menentang kekuasaan Shōgun. Gerakan itu membuat rakyat memuja kembali Shintōisme dan menyanjung pemerintahan Tennō di masa dahulu yang gemilang. Rakyat menghendaki supaya Tennō memegang kekuasaan kembali. Mereka menganggap kekuasaan Shōgun  tidak sah. Bangsa Jepang pun ingin menghidupkan kembali  sifat-sifat Jepang lama. Keadaan para Samurai yang semakin mundur dan petani yang semakin susah membuat anasir-anasir menjatuhkan Shōgun  semakin kuat.
Ketika keadaan dalam negeri bergejolak, negara-negara barat mendesak Jepang supaya membuka negerinya. Inggris mengadakan revolusi industri dan mengadakan ekspansi ke seluruh dunia dan Amerika pun bermaksud memperluas jangkauannya ke Asia. Pada tahun 1854 M Amerika memaksa Jepang untuk menandatangani persetujuan dagang (persetujuan Kanagawa) yang membuat Jepang harus membuka negeri dari bangsa asing.
Pembukaan negeri (Kaikoku) tersebut  membuat rakyat dan Bushi menjadi susah serta perekonomian menjadi kacau. Dua golongan Bushi tingkat bawah yang disebut Satsuma dan Chōshū bersatu dan memulai gerakan Sonnōjōi melawan orang asing tetapi kalah. Mereka mengakui kekuatan orang asing dan berfikir untuk menjatuhkan Bakufu dan menyelenggarakan pemerintahan baru yang berpusat pada kaisar. Saat itu muncul gerakan-gerakan anti Bakufu yang disebut Bakumatsu.
Pemerintahan Tokugawa resmi berakhir ketika Tokugawa Yoshinobu menyerahkan pemerintahan ke tangan Tennō (Taisei Hōkan) pada tanggal 9 November 1867 untuk menghadapi krisis. Tanggal 19 November 1867 Tokugawa mundur dari jabatannya.
2)    Kebudayaan
Karena politik isolasi negeri, Jepang terisolasi dari peradaban barat namun kebudayaan asli Jepang mengalami perkembangan. Dari segi industri, dibangun perusahaan air minum. Industri kerajinan tangan seperti sutera dan kertas juga berkembang. Lalu lintas dan jalan raya dibangun.
Dari segi pendidikan, muncul sekolah yang diselenggarakan di kuil-kuil Buddha yang disebut Terakoya. Ilmu pengetahuan yang berasal dari ajaran Konfusianisme berkembang pesat. Selain itu muncul juga ajaran Kokugaku yaitu ilmu pengetahuan yang meneliti ilmu klasik Jepang dan mencari pemikiran-pemikiran asli Jepang. Kokugaku kemudian memupuk pemikiran untuk menghidupkan kembali pemerintahan langsung oleh Tennō (Sonnō Shisō) dan pemikiran yang berusaha mengusir kekuatan dan pengaruh asing (Jōi Shisō). Inilah yang kemudian melahirkan gerakan Sonnōjōi (Sonnōjōi Shisō) yang muncul pada akhir Bakufu (Bakumatsu). Dengan dibukanya kembali Jepang dari bangsa barat, muncul pula pengetahuan-pengetahuan baru dari barat dan berkembang sebagai Rangaku seperti ilmu kedokteran, ilmu bumi, elektronika dll.
Di bidang kesusastraan, pada zaman Genroku pada masa pemerintahan Tokugawa Tsunayoshi (Shōgun  generasi ke-5) lahir kebudayaan baru masyarakat kota yang disebut Genroku Bunka. Ihara Saikaku mengangkat kehidupan masyarakat kota pada zaman Genroku dalam novel Kōshoku Ichidai Otoko dan Sekenmunazanyō. Matsuo Bashō menciptakan Haiku yaitu puisi 3 baris yang berpola 7-5-7 suku kata. Haiku adalah bagian awal dari Renga yang berdiri sendiri dan pada saat itu disebut Haikai. Oku no Hosomichi adalah catatan perjalanan Bashō yang kemudian menjadi suatu Kikōbun (catatan perjalanan).
Dalam bidang seni pertunjukan, berkembang Kabuki. Kabuki pada mulanya berupa tari-tarian yang dilakukan oleh Okuni yang berasal dari Izumo di kuil Shintō. Saat itu Kabuki dianggap bernilai seni rendah karena kostum dan gerakannya tidak begitu bagus, sehingga Kabuki dilarang oleh Bakufu. Setelah itu Kabuki hanya ditampilkan oleh laki-laki dan lambat laun isi cerita dan seninya menjadi lebih baik. Selain kabuki berkembang pula Ningyō Jōruri yaitu drama boneka yang dimainkan dengan tangan. Kabuki dan Ningyō Jōruri menampilkan lakon-lakon insiden yang terjadi di masyarakat. Ningyō Jōruri merupakan warisan hasil budaya tanpa bentuk yang disebut Bunraku yang dikenal sampai sekarang. Penulis naskah Kabuki dan Ningyō Jōruri pada zaman Genrōku yang juga dikenal sebagai penulis drama terbesar di Jepang adalah Chikamatsu Monzaemon. Karyanya yang terkenal antara lain Sonezaki Shinjū dan Chūshin Tennō Amishima.
Dalam bidang seni lukis yang paling berkembang adalah Ukiyo-e yaitu lukisan yang menggambarkan dunia Kabuki, dunia Sumō, dan dunia wanita penghibur. Ada juga Nishiki-e yaitu gambar yang dibuat dengan dicetak pada papan menggunakan warna-warna yang indah. Seni lain yang berkembang adalah Yūzen (kain celup) dan keramik Jepang.








I.  Zaman Meiji (1868 M – 1912 M)
     1)                Keadaan Zaman

Proses terbentuknya zaman Meiji diawali dengan sebuah gerakan pembaruan yang dikenal dengan Restorasi Meiji (Meiji Ishin). Restorasi Meiji berlangsung dari tahun 1866 M sampai 1869 M (dari akhir zaman Edo sampai awal zaman Meiji). Restorasi ini timbul akibat dibukanya Jepang kepada kapal-kapal dari barat yang dipimpin oleh perwira Angkatan Laut Amerika Serikat, Matthew Perry. Pembentukan aliansi Sacchō (Satsuma-Chōshū) pada tahun 1866 M yang dicetuskan oleh Sakamoto Ryōma adalah titik awal restorasi Meiji. Tujuannya adalah melawan keshōgunan Tokugawa dan mengembalikan kekuasaan pada kaisar.
Setelah Tokugawa Yoshinobu memberikan kekuasaan dan mundur dari jabatannya (tahun 1867 M), setahun kemudian pecahlah perang Boshin (perang Toba-Fushimi). Perang ini timbul karena ketidakpuasan Yoshinobu terhadap pemerintah baru yang tidak memberikan kedudukan penting bagi Yoshinobu dan tanah dikembalikan kepada istana. Satsuma dan Chōshū dari pihak pemerintahan baru berhasil mengalahkan tentara Yoshinobu. Kemenangan pemerintah baru tersebut membuat kaisar mencopot seluruh kekuasaan Yoshinobu.
Pada akhir restorasi Meiji, kota Edo yang masih kacau karena pemberontakan atas pelarangan agama Kristen diubah namanya menjadi kota Tōkyō. Dan nama zamannya diganti zaman Meiji, sesuai nama kaisar yang memimpin pada saat itu. Meiji berarti ”pencerahan”. Kemudian ibukota dipindah dari Kyōto ke Tōkyō.
Zaman Meiji dimulai setelah kaisar Mutsuhito naik takhta dan memerintah Jepang (25 Januari 1868 - 30 Juli 1912). Kaisar Mutsuhito kemudian berganti nama menjadi kaisar Meiji. Kaisar Meiji mengumumkan rencana politik pemerintahan baru yang dikenal dengan ”5 pasal dekrit” yang meliputi:
·      Pembentukan dewan-dewan legislatif.
·      Pelibatan semua golongan masyarakat dalam mengadakan hubungan antar negara.
·      Penarikan kembali aturan perpajakan dan pembatasan kelas dalam pekerjaan.
·      Penggantian  ”tradisi setan” dengan ”hukum alam”.
·      Pengiriman utusan ke Eropa dan Amerika untuk mempelajari ilmu barat dan  
     memperkuat fondasi hukum pemerintahan Meiji.
Pengeluaran dekrit itu dilakukan dengan bersumpah kepada dewa. Maksud dari dikeluarkannya dekrit itu adalah untuk menunjukkan kepada seluruh dunia bahwa Jepang akan membangun negaranya dengan menuntut ilmu pengetahuan. Dengan kembalinya kekuasaan ke tangan kaisar Jepang bermaksud membentuk negara yang berorientasi ke Shintōisme seperti 1000 tahun yang lalu.
Pada tahun 1871 M tanah kekuasaan para Daimyō (Han) dihapuskan dan membagi negeri dengan sistem prefektur (Ken). Dari pusat dikirimkan pegawai pemerintahan untuk mengurus tiap-tiap Ken yang disebut Haihanchiken. Pajak dikumpulkan oleh pemerintah dan pegawai pemerintah menerima gaji dari pemerintah. Kemudian pemerintah memperbarui cara pemungutan pajak dari petani yang disebut Chisokaisei. Pemerintah memberikan sertifikat tanah kepada pemilik tanah, kemudian pajak diganti dalam bentuk uang kontan. Anak laki-laki pemilik tanah diwajibkan meninggalkan desa dan menjadi buruh pabrik atau mengikuti wajib militer di kota. Wajib militer ditetapkan sejak tahun 1873 M dan diwajibkan bagi anak laki-laki berumur lebih dari 20 tahun.
Karena wajib militer diberlakukan, para samurai merasa kecewa. Wajib militer adalah sistem dari barat (tentara dilatih oleh Perancis), dan samurai benci hal yang berasal dari barat. Akhirnya pada tahun 1877 M Takamori Saigō memimpin pemberontakan samurai di Kyūshū. Pertempuran militer melawan samurai tersebut memakan banyak korban di kedua belah pihak. Tapi karena Jepang mengadakan wajib militer, tentara Jepang dapat menyusun kembali pasukannya sedangkan para samurai tidak. Pemberontakan ini berakhir pada tanggal 24 September 1877 dengan terbunuhnya Takamori Saigō.
Pada zaman Meiji, pemerintah menetapkan Shimin Hyōdō yaitu persamaan empat strata sosial Kōzoku (keluarga kaisar), Kazoku (bangsawan istana dan feodal), Shizoku (militer), dan Heimin (petani, pekerja, dan pedagang).
Di bidang pendidikan, pada tahun 1872 M pemerintah menetapkan sistem pendidikan baru. Semua golongan masyarakat dapat mengenyam pendidikan. Kemudian pada tahun 1890 M wajib belajar 6 tahun dicanangkan. Universitas-universitas juga mulai didirikan.
Pada tahun 1875 M diadakan Konferensi Osaka yang menghasilkan keputusan bahwa reorganisasi pemerintahan ditujukan kepada Genrōnin (dewan tetua) yang indepanden.
Pada tahun 1881 M lahirlah pergerakan demokrasi yang melahirkan partai-partai seperti Rikken Jiyutō (Partai Liberal), Rikken Kaishintō (Partai Konstusional Progresif), Rikken Taiseitō (Partai Imperial). Pada tahun 1885 M bentuk pemerintahan diganti dengan sistem kabinet dan Ito Hirobumi sebagai Perdana Menteri. Pada masa imperial ini diproklamasikan UUD kekaisaran Jepang (Konstitusi Meiji) pada tanggal 11 Februari 1889. Konstitusi Meiji menjamin peran politik kaisar secara nyata (walaupun pada akhirnya kekuasaan kaisar dikendalikan oleh dewan tua/Genrōnin). Jepang juga mengadopsi sistem Parlemen seperti di Eropa yang disebut Diet. Pada tahun 1890 M untuk pertama kalinya diadakan pemilihan wakil rakyat, tetapi hanya orang yang berusia 25 tahun keatas yang dapat memilih, peserta pemilih saat itu hanya sekitar 1% saja.
Pada tahun 1880-an Jepang mengalami krisis ekonomi karena adanya pengeluaran besar yang diikuti dengan reformasi sistem mata uang dan pembentukan Bank of Japan.
Pemerintah Meiji menginginkan negaranya sejajar dengan negara barat. Untuk itu pemerintah membeli mesin-mesin dan teknologi canggih dari Amerika dan Eropa. Pemerintah mendirikan pabrik-pabrik, membangun rel kereta api, menetapkan Yen, Sen, dan Rin sebagai mata uang baru. Di dalam kehidupan sehari-hari diberlakukan kalender sistem matahari (Gregorian), misalnya 1 hari ada 24 jam, 1 minggu ada 7 hari, dll. Akhirnya sistem barat pun diterima. Diberlakukan kebebasan beragama sehingga agama Kristen pun diakui.
Pada tahun 1894 M, di Korea terjadi pemberontakan petani. Pemerintah Korea memohon kepada Dinasti Chin agar mengirimkan pasukan militernya. Mengetahui hal tersebut, Jepang pun mengadakan ekspansi sehingga timbullah perang Jepang-Cina (Nisshin Sen). Jepang menang atas Cina. Kemudian setahun berikutnya ditandatangani perjanjian Shimonoseki. Jepang wajib membayar ganti rugi perang yang tinggi. Jepang juga memperoleh Taiwan dan semenanjung Liotung. Tapi Jepang pada akhirnya mengembalikan Semenanjung Liotung setelah Rusia, Perancis, dan Jerman menuntutnya.
Setelah itu, karena Jepang ingin melakukan ekspansi dari Korea ke Cina dan Rusia ingin mengadakan ekspansi dari Manchuria ke Korea, timbul perentangan antara Jepang dan Rusia. Di lain pihak, karena terjadi pertentangan antara Inggris dan Rusia di Asia, maka Inggris dan Jepang berjanji untuk saling menolong dan membuat Aliansi Jepang-Inggris (Nichie Dōmei) pada tahun 1902 M. Kemudian tahun 1904 M dimulailah perang Jepang-Rusia. Atas perantara presiden Amerika, pada tahun 1905 M Rusia dan Jepang menandatangani perjanjian Porstmouth dan berakhirlah perang kedua negara tersebut.
 2)               Kebudayaan
Pada zaman Meiji kebudayaan barat berkembang dengan pesat. Gaya hidup baru yang mencakup bidang ilmu pengetahuan, pendidikan, sandang, pangan, papan adalah kebudayaan barat yang baru yang disebut Bunmei Kaika (pencerahan peradaban). Memotong rambut kucir menjadi pendek dan memakai pakaian barat telah menjadi gaya hidup baru. Daging sapi yang sebelumnya tidak pernah dimakan oleh orang Jepang akhirnya mulai banyak dimakan dan banyak restoran Sukiyaki didirikan.
Di bidang sastra, Jepang juga mulai melangkah menuju modern. Tokoh-tokoh sastra yang muncul pada zaman ini antara lain:
·      Subouchi Shōyō, dengan bukunya ”Shōsetsu Shinzui”.
·      Futabatei Shimei, dengan novelnya ”Ukigumo”.
·      Yōda Rohan, dengan novelnya ”Goshūnokō”.
·      Ozaki Kōyō, dengan novelnya ”Konjiki yasha”.
·      Higuchi Ichiyō, dengan novelnya ”Takekurabe”, ”Nigorie”, ”Jūsan-ya”.
·      Shimazaki Tōson, dengan novelnya ”Haikai”, ”Yoakemae”.
·      Tayama Katai, dengan novelnya ”Futon”.
·      Mori Ōgai, dengan novelnya ”Takasebune”, ”Saigo no Ikku”.
·      Natsume Sōseki, dengan novelnya ”Wagahai wa neko de aru”, ”Bocchan”, ”Kusamakura”, ”Kokoro”.
·      Ishikawa Takabaku, dengan pantunnya ”Ichiaku no Suna”, ”Kanashiki Gangu”.
·      Masaoka Shiki, dengan Haiku dan Tankanya yang diterbitkan dalam majalah ”Hototokisu”.
·      Yosano Akiko, dengan Tankanya yang diterbitkan dalam majalah ”Myōjō”.
3)    Peninggalan
Peninggalan pada zaman ini dapat dilihat dari bidang pendidikan yaitu didirikannya universitas universitas seperti:
·      Universitas Tōkyō Igakkō pada tahun 1877 M (pada tahun 1898 M berganti nama menjadi Universitas Teikoku, dan pada tahun 1945 M berganti nama menjadi Universitas Tōkyō.)
·      Keiō Gijuku ( yang kemudian berganti nama menjadi Universitas Keiō) yang didirikan oleh Fukuzawa Yukichi.
·      Universitas Dōshisha yang didirikan Niijima Jō.
·      Sekolah Kejuruan Tōkyō (kemudian berganti nama menjadi Universitas Waseda) yang didirikan oleh Ookuma Shigenobu.
Setelah tahun 1890 M, industri modern Jepang memajukan mekanisasi di bidang industri pemintalan kertas, industri pemintalan sutra. Tahun 1901 M Jepang selesai membangun pabrik besi baja dan terbentuklah dasar dari industri berat. Jepang juga mulai membuat kapal dan mesin-mesin industri. Peninggalan lainnya adalah jalur telegraf Tōkyō-Yokohama (tahun 1869 M), pos (tahun 1871 M), jalur kereta api Tōkyō-Yokohama (tahun 1872 M), jembatan besi Azuma (tahun 1887 M). Revolusi industri tersebut mengakibatkan meningkatnya kapitalisme dan timbulnya persoalan dalam masyarakat feodal.
J.  Jepang Zaman Taishō (1912 M – 1926 M)
1)                Keadaan Zaman
Zaman Taishō dimulai sejak kaisar Yoshihito berkuasa (30 Juli 1912 – 25 Desember 1926). Kaisar Yoshihito kemudian mengubah namanya menjadi kaisar Taishō. Pada tahun 1914 M di Eropa terjadi Perang Dunia I. Jepang bersekutu dengan Inggris dan mendeklarasikan perang melawan Jerman pada tanggal 23 Agustus 1914. Jepang pun menduduki daerah jajahan Jerman yang ada di Cina seperti Shandong dan Jiaozhou. Jepang berusaha lebih jauh untuk mengkonsolidasikan posisinya di Cina dengan menyajikan “Dua Puluh Satu Tuntutan” (Twenty-one Demands) ke Cina pada bulan Januari tahun 1915 M. Selain memperluas kontrol atas kepemilikan Jerman, Manchuria, dan Mongolia, Jepang juga mencari kerja sama untuk memiliki kompleks pertambangan dan metalurgi di Cina Tengah. Akhirnya Jepang menarik tuntutan tersebut pada Mei 1915 setelah timbul anti-Jepang di Cina dan kecaman dunia internasional.
Kekuatan Jepang di Asia tumbuh dengan runtuhnya rezim Tsar di Rusia dan kekacauan Revolusi Bolshevik tahun 1917 M di Siberia. Kesempatan tersebut digunakan Jepang untuk menduduki Siberia. Tapi untuk melakukannya Jepang harus bernegosiasi dengan Cina agar bisa mendapatkan tempat transit untuk pasukan Jepang. Akhirnya pada tanggal 2 November 1917, diadakan perjanjian Ishii-Lansing yang menghasilkan kebijakan ”Pintu terbuka”. Pada bulan Juli 1918, Jepang mengirimkan 75.000 tentaranya ke Siberia.
Tahun 1919 M, sebagai negara yang menang perang, Jepang menghadiri Konferensi perdamaian yang diselenggarakan di Paris. Dan pada tahun 1920 M terbentuk Liga-Liga Bangsa dan Jepang menjadi anggota tetap dewan keamanan. Setelah Perang Dunia I lahirlah Demokrasi Taishō di Jepang. Tahun 1918 M Hara Takahashi menjadi Perdana Menteri.
Pada tanggal 13 Desember 1921 ditandatangani Perjanjian Empat Kekuatan (Four Power Treaty) Jepang, Amerika Serikat, Britania, dan Perancis sepakat untuk mengakui status quo di Pasifik. Kemudian tanggal 6 Februari 1922 ditandatangani Perjanjian Perlucutan Senjata Lima Kekuatan (Five Power Naval Disarmament Treaty). Dalam perjanjian tersebut disepakati rasio jumlah kapal adalah 5:5:3:1,75:1,75 masing-masing untuk Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Perancis, dan Italia. Tanggal 6 Februari 1922 ditandatangani Perjanjian Sembilan Kekuatan (Nine Power Treaty) Belgia, Cina, Belanda, dan Portugal, bersama dengan lima kekuatan yang asli. Persetujuan tersebut melahirkan kesepakatan untuk mencegah perang di Pasifik. Mereka setuju untuk menghormati Cina merdeka. Jepang juga sepakat untuk menarik pasukannya dari Shandong dan menarik pasukannya dari Siberia.
Akibat adanya perpecahan di Diet dan koalisi yang tidak stabil, pada tahun 1927 M terbentuklah Rikken Minseito (Partai Demokrat Konstitusi) yang merupakan gabungan Kenseikai (Kumpulan Konsititusi Pemerintah) dan Seiyūhontō (True Seiyū). Setelah itu, sampai 1932 M, Seiyūkai dan Rikken Minseito berganti dalam kekuasaan.
Dalam demokrasi di bidang ekonomi, dibuatlah UU anti monopoli sehingga aktivitas ekonomi bisa dilakukan dengan bebas. Reformasi di bidang pertanian dilakukan dengan cara membagikan tanah luas milik tuan tanah yang tidak berada di wilayahnya kepada rakyat. Akibatnya feodalisme antara tuan tanah dan petani kecil menjadi hilang dan pertanian berkembang pesat. Di bidang pendidikan dibuat UU Pendidikan yang menyatakan bahwa sistem pendidikan sekolah dijadikan 6 tahun (SD), 3 tahun (SMP), 3 tahun (SMA), dan 4 tahun (perguruan tinggi). Wajib belajar diperpanjang menjadi 9 tahun.
Pada Tanggal 25 Desember 1926 kaisar Taishō meninggal. Dan digantikan oleh Hirohito.
2)    Kebudayaan
Pada zaman Taishō lahirlah sastrawan bernama Akutagawa Ryūnosuke yang menulis novel ”Rashomon”, ”Hana”, ”Jigokuhen”, dll. Dia meninggal dengan cara bunuh diri. Ada juga Tanizaki Jun’ichirō dengan karyanya ”Shunkinshō”, ”Sasameyuki”. Shiga Naoya dengan karyanya ”Anyakoro”. Mushanokōji Saneatsu dengan karyanya ”Sono Imōto”. Kobayashi Takiji dengan karyanya ”Kanikōsen”.
 3)               Peninggalan
Pada tanggal 1 September 1923 daerah Kantō diguncang gempa hebat sehingga Jepang mengalami kerugian yang cukup berat. Setelah gempa tersebut dibangunlah bangunan-bangunan besar. Rel kereta api, saluran telepon, sarana penyiaran radio, penerbit majalah dan koran juga dibangun. Mobil pun menjadi sarana transportasi yang baru. Pendidikan dan kebudayaan meluas, lahir pula sarjana-sarjana terkenal seperti Noguchi Hideyo yang meneliti penyakit cacar air.
K. Jepang Zaman Shōwa (1926 M – 1989 M)
 1)               Keadaan Zaman
Zaman Shōwa merupakan zaman kaisar Hirohito memerintah dari 25 Desember 1926 sampai 7 Januari 1989. Kaisar Hirohito kemudian mengubah namanya menjadi kaisar Shōwa. Kaisar Shōwa merupakan kaisar yang paling lama berkuasa dari seluruh kaisar Jepang sampai saat itu. Zaman ini diawali saat Jepang turun ke totalitarisme politik, ultranationalisme dan fasisme yang berpuncak pada invasi Jepang di Cina pada tahun 1937. Ini merupakan bagian dari keseluruhan periode global gejolak sosial dan konflik seperti Perang Dunia II.
Perang Pasifik (Perang Asia Timur Raya) terjadi antara tahun 1937 M – 1945 M. Perang ini dimulai oleh sebuah pertempuran kecil antara Jepang dan Cina yang dikenal dengan ”Insiden Jembatan Marco Polo” yang terjadi pada tanggal 8 Juli 1937. Selain perang melawan Cina, Jepang juga berperang melawan Rusia pada tahun 1938 M. Perang tersebut terjadi di perbatasan Manchuria. Dalam perang tersebut Jepang kalah.
Tahun 1940 M kabinet menyetujui Prinsip Dasar Kebijakan Nasional yang menetapkan bahwa Jepang berniat membangun sebuah dominasi Jepang di Asia Timur. Suatu keputusan dibuat pada saat itu untuk memperluas jajahan ke selatan bahkan bila harus berperang melawan Inggris dan Amerika Serikat. Jepang pun menandai sebuah aliansi militer dengan Axis Power. Amerika Serikat pun membalasnya dengan mengembargo besi dan baja ke Jepang. Tahun 1941 M Jepang dan Amerika Serikat bertemu di Washington DC untuk menyelesaikan perselisihan di antara mereka. Tapi karena Jepang masih mengirimkan pasukannya ke Indocina, Amerika Serikat membekukan aset Jepang di negaranya dan mengembargo total ekspor ke Jepang. Inggris dan Belanda pun membekukan aset Jepang di negara mereka. Kemudian Roosevelt dan Churchill bertemu. Mereka setuju untuk mengeluarkan peringatan kepada Jepang bahwa jika Jepang melakukan pelanggaran lebih lanjut untuk memperluas jajahan ke selatan maka Amerika Serikat dan Inggris akan mengambil tindakan balasan bahkan siap untuk perang. Jepang pun mengambil tindakan untuk berperang. Dan pada tanggal 8 Desember 1941 (waktu Jepang) Jepang menyerang Pangkalan Angkatan Laut Pearl Harbor di Hawaii, Pulau Wake, Filipina, Hongkong dan Malaya. Perang dengan barat pun dimulai. Amerika membalasnya dengan menyerang Tōkyō, Yokohama, Nagoya dan Kōbe dengan serangan dari udara pada tanggal 18 April 1942 dan sekali lagi pada tahun 1945 M yang menewaskan 100.000 orang lebih.
Pada tanggal 26 Juli 1945 Amerika Serikat, Inggris dan Cina mengeluarkan Deklarasi Potsdam yang menyatakan bahwa agar Jepang segera menyerah atau akan dibinasakan. Setelah sebulan Jepang tidak memberikan keterangan, akhirnya pada tanggal 6 Agustus 1945 Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di Hiroshima. Kemudian tanggal 15 Agustus 1945 kaisar mengumumkan bahwa Jepang akan mengakhiri perang untuk alasan kemanusiaan. Jepang secara resmi menyerah setelah diadakan perjanjian di atas kapal USS Missouri.
Jepang diawasi oleh SCAP (Supreme Commander Allied Powers) di bawah kepemimpinan Douglas MacArthur. MacArthur tiba pertama kali di Tōkyō pada tanggal 8 September 1945 dan mendirikan kantor SCAP di Tōkyō pada tanggal 18 Oktober 1945. MacArthur dan kaisar Hirohito bertemu. MacArthur memerintahkan pemerintah untuk menghapus semua pembatasan politik, civil, dan kebebasan agama. Dia juga memerintahkan pemerintah Jepang untuk menciptakan 75.000 orang Polisi. MacArthur diberhentikan oleh presiden Truman dan digantikan jenderal Mathew Ridgway. Tahun 1951 M MacArthur meninggalkan Jepang.
Pendudukan kekuatan asing di Jepang tersebut membawa perubahan radikal ke Jepang. Pendudukan sekutu tesebut melahirkan reformasi demokratis. Ini menyebabkan akhir status kaisar sebagai dewa yang hidup dan transformasi Jepang menjadi demokrasi sejati dengan monarki konstitusional.
Pada tanggal 8 September 1951 Perjanjian Perdamaian Internasional (International Peace Treaty), yang ditandatangani oleh empat puluh delapan negara di San Fransisco, membawa Jepang kembali ke dunia internasional. Perang Dunia II resmi berakhir untuk Jepang, dan Jepang mendapatkan kembali statusnya sebagai negara merdeka. Tuntutan kepada Jepang untuk membayar ganti rugi lebih lanjut dihapuskan. Pada saat yang sama, AS dan Jepang menandatangani Perjanjian Keamanan bersama.
Pada tanggal 28 April 1952 pendudukan Amerika Serikat di Jepang resmi berakhir. Perjanjian keamanan diberlakukan. Amerika Serikat dan Jepang menegosiasikan kembali perjanjian keamanan 1952 dan menggantikannya dengan yang baru, direvisi Treaty of Mutual Security and Cooperation dan diberlakukan setelah ratifikasi Senat AS.
Setelah Perang Dunia II ekonomi Jepang mengalami keajaiban. Disebut ajaib karena pertumbuhan tahunan rata-rata 10% pada 1955 M – 1960 M dan lebih tinggi pada tahun-tahun berikutnya. Pada 1980-an ekonomi Jepang menjadi salah satu yang terbesar di dunia dan paling canggih, dengan pendapatan per kapita yang melampaui AS.
Pada zaman ini diadakan Olimpiade musim panas di Tōkyō pada tahun 1964 M dan Olimpiade musim dingin di Sapporo pada tahun 1972 M.
Pada tanggal 7 Januari 1989 Kaisar Hirohito (Shōwa) meninggal dan digantikan anaknya, kaisar Akihito (Heisei).
L. Jepang Zaman Heisei (1989 M – Sekarang)
     1)    Keadaan Zaman
Zaman Heisei merupakan zaman kaisar Akihito berkuasa (8 Januari 1989 sampai sekarang). Setelah kaisar Shōwa meninggal dunia, diputuskan pemberian nama zaman sesudah zaman Shōwa adalah zaman Heisei. Heisei dapat diartikan ”damai di mana-mana”.
                   Pada zaman ini Jepang mengalami Perang Dingin (1985 – 1991).

Pada awal zaman ini Jepang juga masih mengalami pertumbuhan ekonomi yang baik. Pada tahun 1989 M Yen menguat terhadap dolar. Suku bunga menjadi rendah. Investasi pun meningkat sampai 60%. Saham Nikkei mencapai rekor tertinggi yaitu 39.000. Tapi pada tahun 1991, saham tersebut jatuh pada kisaran 15.000. Peristiwa tersebut dikenal dengan ”gelembung ekonomi” (bubble economy). Efek dari krisis ekonomi pada keluarga jepang rata-rata telah terbatas dan ini mungkin karena penekanan jepang berhemat dan menabung. Ekspor jepang utama meliputi mobil, mesin industri, dan aksesoris komputer. Amerika Serikat mengimpor sekitar seperempat dari semua ekspor jepang. Di masa lalu Jepang telah mempertahankan surplus perdagangan dengan amerika serikat, yang telah menjadi sumber ketegangan antara kedua negara. namun, pada 2009, Jepang mengalami defisit perdagangan pertamanya dalam 28 tahun karena permintaan luar negeri menyusut, khususnya di Amerika Serikat.

Pada tahun 1995 terjadi gempa bumi besar berkekuatan 7,2 SR di Kobe dan menewaskan lebih dari 5000 orang.
            Pada tahun 2002 Jepang bersama dengan Korea Selatan menjadi tuan rumah bersama Piala Dunia 2002.
M.               Festival (Matsuri) yang Ada di Jepang
     1)    Obon
            Festival atau tradisi orang Jepang untuk merayakan kedatangan arwah leluhur. Obon dilakukan setiap tanggal 15 Agustus, tapi ada juga yang merayakannya tanggal 15 Juli.. Orang Jepang percaya bahwa roh orang yang telah mati akan mengunjungi keluarganya setiap 2 tahun sekali. Kesempatan ini juga dijadikan orang-orang untuk pulang kampung. Untuk menutup perayaan Obon biasanya orang-orang menarikan tarian Bon’odori bersama-sama.
     2)    Tanabata
            Disebut juga festival bintang. Festival ini juga dilakukan di China dan Korea. Dirayakan setiap tanggal 7 Juli. Perayaan ini berkaitan dengan cerita Gadis Penenun dan Laki-laki Penggembala yang saling mencintai. Mereka diijinkan menikah oleh Raja Langit. Tapi setelah menikah mereka menjadi malas. Raja Langit memisahkan mereka. Mereka dipisahkan oleh sungai Amanogawa (galaksi Bimasakti) dan hanya dapat bertemu satu tahun sekali. Gadis Penenun berada di bintang Vega dan Laki-laki Penggembala berada di bintang Altair. Pada tanggal tersebut Bintang Altair dan vega paling mudah dilihat. Pada perayaan Tanabata, anak-anak sekolah dan pasangan yang sedang berpacaran menuliskan keinginan, harapan, dan cita-cita masa depan di atas Tanzaku (kertas persegi panjang). Tanzaku kemudian digantung di dahan-dahan pohon bambu bersama-sama dengan hiasan beraneka warna agar keinginan yang dituliskan menjadi terkabul.
3)    Shichi-go-san
            Festival untuk mendoakan anak perempuan yang genap berusia 3 dan 7 tahun serta anak laki-laki yang genap berusia 5 tahun. Saat shichi-go-san anak-anak pergi ke kuil Shintō bersama orang tuanya untuk didoakan. Festival ini dilaksanakan setiap 15 November.
4)        Hinamatsuri
            Festival anak perempuan. Diadakan setiap tanggal 3 Maret. Di rumah orang Jepang yang mempunyai anak perempuan yang masih kecil biasanya dipajang boneka pasangan pengantin (Hina ningyō). Fungsi boneka tersebut adalah sebagai tempat pembuangan kejelekan. Maksudnya, segala hal buruk yang menimpa anak perempuan diharapkan dapat berpindah ke dalam boneka tersebut.
5)        Setsubun
            Diperingati setiap 3 Februari. Saat Setsubun ada tradisi melempar kacang kedelai untuk mengusir setan. Biasanya mereka mengucapkan “Oni wa soto! Fuku wa uchi!” (Setan di luar! Kebaikan di dalam!)
N. Tradisi Jepang
1)    Bunraku
Seni pertunjukan yang menggunakan boneka dan diiringi musik.
2)    Chanoyu
      Upacara minum teh. Dalam upacara ini, diperlihatkan pembuatan teh dari teh dalam bentuk bubuk sampai menjadi minuman. Prosesnya sangat lama dan aturannya sangat ketat. Kita harus duduk bersimpuh selama kurang lebih 2 jam.
3)    Hanami
Hanami adalah kegiatan menikmati bunga Sakura pada musim semi. Biasanya orang-orang bersama keluarganya makan-makan di bawah pohon Sakura. Terkadang untuk mendapatkan tempat yang sesuai, seseorang rela bergadang sebelum Hanami dimulai.
4)        Ikebana
Seni merangkai bunga. Bunga dapat dirangkai sedemikian rupa menjadi suatu karya seni yang indah. Aliran Ikebana di Jepang sangat banyak. Karena itu, bermacam-macam pula keindahan yang dihasilkannya.
5)        Kabuki
       Seni teater tradisional Jepang di Jepang. Biasanya pemain Kabuki memakai tatarias yang mencolok dan berkostum mewah. Semua pemainnya adalah laki-laki.
6)       
       Lebih sering terdengar Noh. Adalah drama musik Jepang klasik. Meskipun dinamakan drama musik, tetapi juga memakai tarian dan kata-kata.
7)        Origami
       Seni melipat kertas. Origami Jepang yang paling terkenal adalah Origami bangau (Orizuru). Katanya, bangau adalah simbol panjang umur. Karena itu, apabila bisa membuat 1000 buah Orizuru, orang tersebut akan panjang umur.
8)        Shintō
       Suatu aliran kepercayaan (agama) di Jepang. Agama terbesar kedua di Jepang setelah Buddha (Bukkyō). Umat Shintō bersembahyang di kuil yang disebut Jinja. Sedangkan umat Buddha bersembahyang di kuil yang disebut Tera.
9)        Shodō
       Seni menulis kaligrafi. Shodō berbeda dengan menulis huruf biasa. Shodō memiliki teknik khusus. Biasanya Shodō menggunakan kuas (fude) dan tinta Cina. Bahkan ada kuas yang panjangnya sekitar 1 meter untuk menulis di kertas yang besar.


3 komentar:

  1. Makasih ya sob infonya udah share, sangat bermanfaat sekali ...................



    bisnistiket.co.id

    BalasHapus
  2. tolong cantumkan sumber2nya dong darimana saja info tersebut didapat. sumber diperlukan agar bisa benjadi referensi bahan kuliah dan sebagainya. jika tidak ada sumber, ilmu ini tidak bisa dijadikan referensi. tks

    BalasHapus
  3. nice post.. tp ini sumbernya dari mana ya??

    BalasHapus